Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada warga khususnya korban bencana ini jangan mau diprovokasi oleh oknum yang mencari keuntungan dari bencana ini. Seharusnya adanya bantuan itu disyukuri bukan malah ditolak karena provokasi dari pihak luar.

“Bantuan yang diberikan hamba Allah SWT itu bukan dalam bentuk uang tetapi fasilitas seperti huntara dan jaminan hidup seluruh korban bencana ini selama dua tahun ke depan. Ini yang harus diketahui oleh warga korban bencana, bantuan yang diberikan bukan dalam bentuk uang tunai,” katanya.

Agus mengatakan semua bantuan yang diberikan dari komunitas maupun perorangan kepada panitia lokal di masa transisi ini semuanya terbuka dan panitia sama sekali tidak pernah mengambil keuntungan.

Masyarakat harus sabar dan menunggu hingga huntara tersebut dibangun, apalagi kualitas bangunannya cukup baik dan layak. Tentunya bantuan ini harus didukung bukan malah menggalang tanda tangan untuk menolak pembangunan huntara.

“Oknum yang memprovokasi atau membuat kisruh seharusnya ditangkap karena korban bencana harus segera ditempatkan di lokasi yang nyaman karena jika bertahan di pengungsian khawatir mudah terserang penyakit,” katanya.

Hingga saat ini jumlah rumah rusak berat (ambruk) mencapai 90 unit dan 36 lain terdampak namun sudah tidak bisa dihuni lagi karena pergeseran tanah semakin masif.

(Abdul Hamid)