Jakarta, Aktual.com – Hari kedua lebaran. Senyap menggerayangi pori-pori. Kicau burung menyisakan suara alam yang nyaring terdengar.

Dalam iringan nyanyian alam, kuhikmati momen kesunyian dengan mengurusi rumah sendiri tanpa bantuan tangan-tangan asisten keluarga.

Semua kembali ke titik kosong. Titik perjumpaan masa lalu dan masa kini dalam aliran darah masa kini. Masa kita menyusun ulang sejarah tanpa silam dendam, tanpa depan prasangka. Masa manusia mulai mengenali semesta dengan mengeja alfa, alif.

Aku ingin mulai melukis sejarah baru dengan melancong, merapatkan simpul keluarga dengan petualangan bersama; mengenali kedirian dari dunia seberang.

Dalam jendela johari, ada kedirian yang mungkin tak dikenali diri sendiri. Kita bisa tak tahu diri, membanggakan diri atau mengutuk diri. Melintasi batas-batas sendiri dengan mengenali dunia lain, perspektif pihak lain, bisa melengkapi pemahaman terhadap diri.

Kita harus bertebaran di muka bumi, mengenali keragaman-perbedaan peradaban. Dengan mensyukuri karunia milik kita, belajar kelebihan pihak lain, kita bisa saling mengarifkan, saling menyempurnakan. Merayakan kehidupan bersama dengan pukau misteri, gairah perjumpaan, dan debar harapan.

Feel the moment!

(Yudi Latif, Makrifat Lebaran).

(Ismed Eka Kusuma)