Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam rangkaian acara Pameran, Peluncuran Buku, dan Penyerahan Sertifikat
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam rangkaian acara Pameran, Peluncuran Buku, dan Penyerahan Sertifikat "Memory of the World" (MoW) UNESCO 2017 di Kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa (17/4). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati 63 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA).

Jakarta, Aktual.com – Dalam rangka memperingati 63 tahun Konferensi Asia Afrika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar Pameran “Tiga Tinta Emas Abad 20”, Peluncuran buku “Live & Let Live Asia Africa Unity in Diversity” dan Penyerahan Sertifikat MoW UNESCO 2017. Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar pada 18-24 April 1955 di Bandung menjadi tonggak sejarah Indonesia dalam upaya melawan kolonialisme di Asia Afrika.

Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri mengatakan bahwa ada tiga peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia abad 20, yaitu Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, Pidato Bung Karno di PBB 1960, dan Gerakan Non-Blok Pertama yang diadakan di Beograd 1961.

“Konfrensi Asia-Afrika diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah, yaitu DASA SILA BANDUNG. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika,” ujar Megawati di Jakarta, Selasa (17/4).

Dirinya merasa terharu dan berterimakasih kepada semua pihak dan UNESCO yang telah menetapkan arsip Konferensi Asia-Afrika sebagai Memory of The World (MoW) pada tanggal 9 Oktober 2015. Dengan ditetapkannya MoW ini, maka dokumen tersebut akan terus terjaga dan terlestarikan semua kekayaan documentary heritage secara bijak, termasuk nilai-nilai sejarah dan artistik yang tinggi.

“Ini menunjukkan semangat gotong-royong dan solidaritas, prinsip musyawarah untuk mufakat, kesepakatan untuk menentang segala bentuk penjajahan, serta persatuan dalam keberagaman yang disuarakan dalam KAA diakui sebagai ingatan kolektif dunia,” jelasnya.

Dirinya mengutip pernyataan bung Karno, “Live and Let Live Asia Africa Unity in Diversity”, bahwa tidak ada tugas yang lebih penting daripada memelihara perdamaian. Tanpa perdamaian kemerdekaan menjadi tidak bermakna, perbaikan dan pembangunan negara kita kehilangan makna.

“Ketika arsip KAA diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO, maka arsip Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke-XV (lima belas) dan Arsip GNB Pertama pun, sangat layak pula untuk menjadi Memory of The World,” jelasnya.

Menurutnya, bukan hanya Indonesia yang membutuhkan Arsip KAA, tapi dunia. Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari “Tiga Tinta Emas abad 20” tersebut adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Bung Karno telah mengingatkan bahwa semua warga bangsa saling terkoneksi dalam menghadapi problematika abad 21. Contohnya, perubahan iklim dan cuaca, yang juga berpengaruh pada perubahan budaya dan cara hidup manusia, serta berdampak pada politik ekonomi, terutama pangan. Ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat,” jelasnya.

Duta Informasi LIPI, Rieke Diah Pitaloka menambahkan Post-truth adalah iklim sosial politik, dimana emosi mengalahkan obyektivitas dan rasionalitas, serta cenderung menolak verifikasi fakta. Opini publik digiring sedemikian rupa melalui skenario pembohongan yang direncanakan dengan sistematis.

“Mari kita belajar dari para tokoh politik Konferensi Asia Afrika. Bagi mereka, kebenaran harus dapat diverifikasi. Tidak ada satu orang pun yang dapat menyangkal bahwa Dasa Sila Bandung adalah suatu kebenaran yang dapat diverifikasi dan telah diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO,” jelas Rieke.

Nilai-nilai yang diwariskan KAA bandung terutama Bung Karno sangat terasa ketika berbicara di forum-forum internasional. Banyak negara yang memperoleh nilai-nilai dari KAA Bandung. Buktinya, KAA Bandung menjadi rujukan ketika negara mencoba mengatasai masalah-masalah global.

“Lihatlah, politik tirai bambu negara China, karena mengambil nilai-nilai KAA, akhirnya membuka diri kemudian dan bisa masuk ke PBB. Nilai lain yang sangat bermanfaat yaitu usaha Soekarno mendekati negara-negara untuk tidak menggunakan bom nuklir dan bom hidrogen untuk kepentingan perang,” pungkasnya.

(Ismed Eka Kusuma)