Maulana Syekh Dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani membaiat thariqoh Shiddiqiah, Darqawiah, Syadziliah usai acara Maulid baginda Nabi Muhammad SAW di Zawiyah Arraudhah, Jalan Tebet Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (13/1/2018) malam. Syekh Yusri mengingatkan kepada jamaah yang telah di baiat untuk mengikuti Hadroh Usbuiyah setiap Kamis malam di Zawiyah Arraudhah. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ra’ah menjelaskan dalam pengajian kitab shahih Bukharinya, bahwa diantara bentuk sebuah harapan yang baik (alfa’l alhasan) adalah memberikan nama kunyah (nama yang diawali dengan abu atau ummu) kepada seseorang, meski belum menikah dan punya anak. Dengan harapan bahwa dirinya akan tumbuh dewasa kemudian menikah dan mendapatkan keturunan yang shalih dan shalihah.

Imam Bukhari Ra meriwayatkan, bahwa Anas Ra berkata: ” Baginda Nabi Saw adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki saudara yang diberi nama Abu Umair, yang baru saja disapih, dan ketika ia datang, maka Baginda Nabi Saw berkata kepadanya: ” wahai Aba Umair, ada apa dengan burung nughair (burung hias)?”(HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Baginda Nabi Saw memanggil saudara anas yang masih kecil dengan kunyahnya, yaitu Abu Umair, yang memiliki nilai fa’l (harapan) yang baik, yaitu tumbuh menjadi dewasa dan memiliki anak.

Bahkan, nama kunyah ini bisa jadi lebih terkenal dari pada nama asli seseorang, atau lebih disukai dari pada nama aslinya. Seperti halnya Abu Hurairah Ra, seroang sahabat yang memiliki nama asli Abdurrahman bin Sakhr yang berasal dari Yaman, ia dijuluki oleh Baginda Nabi Saw dengan sebutan Abu Hurairah, oleh sebab ia sering kali membawa kucing di lengannya.

Hurairah berarti anak kucing dalam bahasa arab.
Sebagaimana Sahl bin Sa’id Ra berkata, bahwa nama yang paling disukai oleh Sayiduna Ali Ra adalah nama kunyahnya, yaitu Abu Turab, dan ia sangat senang ketika dipanggil dengan sebutan itu.

(Abdul Hamid)