Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menghadiri acara pembukaan sesi "Pathways to Prosperity" dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Agenda tersebut membahas tentang perkembangan teknologi untuk pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/ ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun/wsj/2018

Jakarta, Aktual.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan defisit anggaran pada akhir 2018 berada pada kisaran 1,83 persen-2,04 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau lebih rendah dari target dalam APBN, 2,19 persen terhadap PDB.

“Untuk akhir tahun, defisit APBN dibawah dua persen, atau kisaran 1,83%-2,04%, jauh lebih rendah dari 2,19%,” kata Sri Mulyani dalam jumpa pers perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Jakarta, Rabu (17/10).

Sri Mulyani mengatakan rendahnya proyeksi defisit anggaran pada akhir 2018 terjadi karena adanya pengelolaan fiskal yang memadai, yang terlihat dari membaiknya pertumbuhan penerimaan pajak dan realisasi belanja pemerintah pusat.

Hingga akhir September 2018, realisasi penerimaan pajak mengalami pertumbuhan 16,5 persen dan belanja pemerintah pusat tercatat tumbuh 16,1 persen, atau lebih tinggi dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kita lihat dengan tren penerimaan dan belanja yang sama-sama baik, terutama penerimaan yang sangat kuat, outlook defisit nanti pada akhir tahun sangat menggembirakan,” ujar Sri Mulyani.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani mengatakan realisasi defisit anggaran dalam APBN hingga 30 September 2018 telah mencapai Rp200,2 triliun atau 1,35 persen terhadap PDB.

“Defisit anggaran mencapai Rp200 triliun, tahun lalu dalam periode yang sama Rp272 triliun. Jadi turun hampir Rp72 triliun dari tahun lalu,” ujarnya.

Sri Mulyani menambahkan realisasi defisit anggaran yang mencapai 1,35 persen terhadap PDB ini juga lebih rendah dari periode sama tahun lalu sebesar dua persen terhadap PDB.

Realisasi defisit anggaran ini berasal dari pendapatan negara sebesar Rp1.312,3 triliun atau 69,3 persen dari target serta belanja negara Rp1.512,6 triliun atau 68,1 persen dari pagu.

Untuk menutup defisit anggaran tersebut, realisasi pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp292,8 triliun atau lebih rendah dari tahun lalu Rp391,2 triliun.

Pemerintah juga mencatat neraca keseimbangan primer mencapai defisit Rp2,4 triliun atau lebih baik dibandingkan periode sama 2017 sebesar defisit Rp99,2 triliun.

Ant.

(Teuku Wildan)