Jakarta, aktual.com – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, mengatakan pemerintah sudah mengantisipasi untuk menghadapi aksi “People Power” pada 22 Mei. Bahkan, pemerintah juga sudah mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi menjadi provokator.

“Langkah kita, saya bilang semuanya kan sudah ketahuan. Langkah-langkah yang diambil kan penggembosan sebelum berangkat. Kalau sudah jalan provokatornya, saat itu atau saat kemudian akan diambil oleh aparat,” ucap Hendropriyono di bilangan Jakarta, ditulis Minggu (19/5).

Dia menuturkan, provokator meskipun cuma berteriak juga bisa terjerat hukum. Sebab, provokator dinilai meresahkan dan harus diamankan.

“Dan walaupun itu cuma teriak di jalan, tapi hukumannya ada. Walaupun hukumannya tidak terlalu berat seperti teroris atau koruptor, ini kan hampir-hampir termasuk teroris bikin takut rakyat. Ini tergolong high risk prisoner. Narapidana yang sangat berbahaya, sangat menimbulkan resiko, karena provokasinya sangat berbahaya. Bisa nular kayak virus,” jelas Hendropriyono.

Oleh karenanya, jika ditangkap provokatornya, pelaku bisa diisolir. “Karena itu untuk orang-orang kayak provokator, menghasut-hasut massa, yang mati kan rakyat, dia kan belum tentu mati. Kan cuma menghasut-hasut kemudian kabur. Untuk itu kalau tertangkap harus diasingkan. Karena high risk prisoner itu terus diisolasi. Tidak bisa bawa handphone, tidak bisa ketemu orang, tidak bisa,” kata Hendropriyono.

Dia pun berseloroh, mereka seharusnya diisolir ke pulau-pulau terpencil agar merenungi kesalahannya. “Bayangkan kita punya pulau ada 17.502 pulau di Indonesia. 87 persen dari pulau-pulau itu tidak ada orangnya tidak ada penghuninya. Tinggal saja di pulau itu, satu-satu. Tinggal dikasih biskuit dan air mineral tiap bulan di drop disitu, diawasi pakai drone. Lu rasain dah tu,” pungkasnya.

(Zaenal Arifin)