Warga mengangkut barang berharga menggunakan perahu keluar dari desanya yang terkepung banjir di Desa Seuneubok Muku, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Senin (8/2). Banjir yang disebabkan luapan sungai Tanah Jambo Aye akibat tingginya curah hujan mengakibatkan ratusan rumah terendam banjir dan ribuan warga terpaksa mengungsi. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww/16.

Banda Aceh, Aktual.com – Bencana banjir disertai tanah longsor mengepung wilayah Aceh Tenggara akibat sungai di 39 desa pada tujuh kecamatan dengan ketinggian air mencapai satu meter akibat hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.

“Ada satu rumah roboh tersapu banjir di Desa Tualang Sembilar, Bambel. Ada juga beberapa jembatan gantung penghubung antar desa terputus kemarin (Kamis, 13/12) malam,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Jumat (14/12).

Ia menyebutkan, ke-39 wilayah desa ini, sembilan di antaranya seperti Bambel Baru, Tualang Baru, Kute Meliye, Alur Buluh, Telengat Pagan, Mbak Sako, dan Babul Makmur di Kecamatan Bukit Tusam akibat luapan Sungai Alas.

Selain itu enam desa lainnya, yakni Lawe Hijo megalami tanggul Sungai Lawe Kinga pecah di daerah aliran sungai (DAS) yang mengakibatkan Kuning I tergenang air hingga ke badan jalan lintas nasional, Rikit Paloh, Likat, sedangkan di Terutung Payung tanggul DAS Alas jebol, dan Tualang Sembilar di Bambel.

Di Babusalam terdapat dua sungai tanggulnya jebol, yakni DAS Sungai Alas dan DAS Sungai Bulan. Mengakibatkan lima desa tergenang, seperti Mendabe, Batu Mbulan Sepakat, Kuta Cane Lama, Ujung Barat, dan Mbarung juga mengalami jembatan terputus menuju ke Kecamatan Lawe Alas.

Kemudian di Darul Hasanah akibat tanggul Sungai Lawe Mamas jebol, sehingga lima desa terendam air, seperti Mamas Baru, Kuta Ujung, Kute Rambe, dan Nabukh Buluh. Ada lima desa di Ketambe mengalami tanggul pecah di DAS Sungai Alas, seperti Bener Bepapah, Simpur Jaya, Jambur Lak-lak, Lauser, dan Jati Sara.

Terakhir sembilan desa di dua kecamatan, yakni Tanoh Alas, dan Babul Rahmah terendam akibat tanggul Sungai Alas pecah sehingga mengenangi, seperti Salim Pinim I, Khutung Mbelang, Rambah Sayang, Kute Mejile, Jambur Damar, Titi Mas, Tuhi Jongkat, Titi Harapan, dan Alas Mesikhat “Rata-rata banjir merendam sebagian rumah, halaman rumah, dan kini dalam situasi siaga sebagai antisipasi jika air naik. Untuk Desa Kayu Mbelin di Lawe Sigala-gala akibat DAS Sungai Kayu Mbelin mengakibatkan satu jembatan tersumbat,” katanya.

Hingga kini dilaporkan, Dusun Lawe Dundung di Desa Lauser, Ketambe, masih terisolir akibat jembatan gantung penghubung desa terputus.

“Kemungkinan jumlah desa, dan kecamatan yang terdampak banjir bertambah. Karena jalan menuju ke wilayah yang terkena banjir belum bisa lewati, meski di beberapa desa air telah surut,” kata Dadek.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat mengingatkan, agar sejumlah wilayah mewaspadai potensi terjadinya banjir akibat curah hujan meningkat dalam beberapa hari ke depan di Aceh.

Kepala Seksi Data BMKG Stasiun Meteorologi Aceh, Zakaria Ahmad mengatakan, potensi tanah longsor juga perlu diwaspadai bagi mereka yang tinggal di daerah dataran tinggi di provinsi paling barat Indonesia tersebut.

“Adanya belokan angin yang terjadi di wilayah Aceh di bagian Tengah dan Timur, dan adanya daerah konvergensi di bagian Barat wilayah Aceh mengakibatkan curah hujan meningkat,” tegasnya.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)