Semua pihak yang ikut dalam pesta demokrasi lima tahunan ini, tentunya punya hak, pembelaan, klaim, tudingan. Termasuk punya hak dalam menyampaikan pendapat, selagi itu memiliki data yang akurat.

Meski demikian, ini menjadi menarik, karena kedua belah pihak saling menuding soal “menggoreng ucapan”. Misal yang disampaikan juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandiaga, Andre Rosiade bahwa kubu calon presiden Joko Widodo atau Jokowi kerap menggoreng ucapan Prabowo sehingga sejumlah ucapan Prabowo ramai diperbincangkan.

Menurut dia, ucapan-ucapan calon presiden Prabowo tidak salah, tidak blunder. “Menurut saya ucapan Pak Prabowo tidak blunder, tapi digoreng sedemikian rupa,” ujar Andre dihubungi Sabtu, 24 November 2018.

Yang menggoreng ucapan Prabowo, kata Andre, kubu sebelah, yakni kubu Jokowi – Ma’ruf Amin. “Pekan lalu bilang sontoloyo, genderuwo bahkan bilang bos besarnya mau nabok orang.”

Beberapa ucapan Prabowo saat kampanye dianggap blunder oleh sejumlah pihak. Soal tampang Boyolali, misalnya. Ledekan Prabowo itu bermaksud mencandai sistem perekonomian Indonesia yang menurut kubunya makin bobrok. Gara-gara ujaran itu, Prabowo diprotes Forum Boyolali Bermartabat.

Mereka menggelar aksi Save Tampang Boyolali pada Ahad, 4 November 2018. Soal tampang Boyolali, kata Andre, Prabowo tidak bermaksud menyindir. Andre mengatakan itu merupakan ungkapan candaan kepada para pendukungnya.

Selain tampang Boyolali, ada pula ucapan Prabowo yang diprotes yakni soal pengojek. Menurut Andre, Prabowo sebenarnya tengah menjelaskan soal minimnya lapangan kerja hingga membuat masyarakat banting stir menjadi pengojek. “Tapi itu dipolitisir.”

Andre mengklaim Prabowo adalah pihak yang paling perhatian terhadap pengojek. Prabowo, kata dia, telah menandatangani kontrak politik yang isinya akan membuat peraturan pemerintah soal ojek. Dia mengatakan PP itu nantinya akan memberi jaminan hukum kepada para pengojek.

“Jadi lebih konkret Prabowo – Sandiaga dibanding Jokowi – Ma’ruf.”

Entah ini terjadi karena apa, yang pasti publik saat ini tengah disuguhkan politik saling tuding yang dilakukan oleh kedua calon. Apa yang disampikan kubu Prabowo tentunya dalam perpolitikan hanya sebagai umpan. Ibarat memancing, kubu Prabowo tahu resepnya bila ingin memancing ikan yang besar-besar. Begitu juga dari kubu Jokowi-Maruf. (Wisnu)

View Fullscreen