Karena isu PKI ini menyerang Jokowi, khususnya secara elektoral dan pribadi sehingga suara yang diperoleh saat ini diam ditempat. Seharusnya, kata “kasar” yang disampaikan Jokowi belakangan ini bisa dikuasai secara emosi.

“Dalam hal ini Jokowi perlu strong lagi soal kecerdasan emosional,” kata dia.

Ini semua, kata dia membuktikan tim komunikasi Jokowi tidak jalan dengan baik alias pincang. Apalagi arti Tabok bisa negatif. Dalam KBBI misalkan tertulis: memukul (kepala dan sebagainya) dengan telapak tangan; menampar.

“Barangkali bagi Jokowi ini bahasa yang bisa menaikkan elektabilitasnya,” kata dia lagi.

Sebagai Presiden, lanjut dia, pernyataan Jokowi harusnya  jangan sampai blunder. Dia seharusnya bisa menyaring mana bahasa yang perlu dan tidak perlu disampaikan.

“Pernyataan yang berkesan negatif  jangan diumbar, bisa jadi bumerang,” katanya.

Prabowo Abaikan Hasil Survei

Lembaga survei Median merilis survei soal elektabilitas pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019. Meski demikian, hasilnya, suara Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih diatas pasangan Prabowo-Sandi.

Survei Median dilakukan pada 4-16 November 2018 terhadap 1.200 responden, populasinya seluruh warga yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara acak atau multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender. Margin of error survei +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei dilakukan dengan memberi pertanyaan kepada responden ‘jika pemilihan presiden dilakukan saat ini, pasangan manakah yang anda pilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia?’ Pasangan Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi  hanya selisih 12 persen.

“Jadi PR (pekerjaan rumah) Jokowi adalah suaranya harusnya bisa lebih baik dari ini. Dan ini adalah evaluasi Prabowo juga, ini sudah tiga kali dia ikut pilpres, jadi ini evaluasi dari kedua belah pihak,” sambungnya.

Berikut hasil survei Pilpres 2019 oleh Median:

(Nebby)