Tentu, selaku incumbent, posisi itu dinilai masih belum kuat karena beberapa penantang Jokowi belum masif turun ke masyarakat. Dalam survei LSI, hasil survei menunjukkan elektabiltas Jokowi 46 persen. Karena sebagai petahana, harusnya memang elektabilitas minimal di atas 50 persen.

Peneliti LSI Adji Alfaraby memandang, kans agar Jokowi dapat dikalahkan bisa terjadi apabila kubu oposisi tetap solid. Termasuk, bila kekuatan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo masuk barisan.

“Probabaility (peluang) 50 vs 50. Jokowi bisa dikalahkan jika kekuatan oposisinya bersatu. SBY, Prabowo, Amien Rais dan Gatot perlu bersatu jika ingin kalahkan Jokowi,” kata dia.

Adjie pun menjabarkan, lima faktor Jokowi masih unggul, namun dalam berbagai survei elektabilitasnya tergerus oleh sejumlah isu. Isu – isu itu dinilai LSI mulai efektif digerakan oleh kelompok oposisi diantaranya: tagar #2019GantiPresiden, tenaga kerja asing, ekonomi, pemilih dari kalangan Islam dan apakah Jokowi masih bisa dikalahkan. Tetapi sejauh ini, kata dia kubu lawan masih belum gerak secara agresif.

“Lawannya (Jokowi) masih tiarap menunggu momen dan memastikan tiket untuk bertarung,” kata dia.

Survei yang dilakukan oleh dua lembaga ternama itu tentunya membuka tabir bahwa kekuatan petahana dalam pertarungan 2019 nanti cukup berat, karena elektabilitasnya tak terlalu signifikan.

Suara Stagnan, Jokowi Mulai Kasar

Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development Studis (ISDS) M Aminuddin menilai, elektabilitas Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2019 ini stagnan. Itu sebabnya dia belakangan ini melontarkan kata-kata yang kasar. Padahal, dalam tradisi Jawa sangat menjunjung tinggi kehalusan dan prilaku.

“Mungkin beliau (Jokowi) agak panik elektabilitasnya stagnan dan sulit naik,” ujar Aminudin menanggapi pernyataan Jokowi yang semakin vulgar belakangan ini.

Terlebih lagi, kata pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin 9 persen atau 6 juta penduduk Indonesia mempercayai bahwa Jokowi ini merupakan anggota PKI. Sehingga wajar, suara Jokowi saat ini stagnan alias diam ditempat yakni 43 persen.

“Dengan demikian, Jokowi akan kehilangan suara dari 9 persen itu. Apalagi kredibilitas Jokowi hancur karena dikaitkan dengan PKI,” jelasnya.

(Nebby)