(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Wajar, bila akhir-akhir ini petahana Joko Widodo naik pitam alias naik darah karena sejumlah isu miring terus dihembuskan. Mulai dari tidak pro rakyat sampai isu lama seperti Jokowi anggota PKI terus bergulir. Kontrol terhadap dirinya pun tak terbendung, yang pada akhirnya, Jokowi kerap melontarkan kata-kata yang tidak etis sebagai kepala negara.

Misal seperti tudingan politikus sontoloyo, gondoruwo dan yang teranyar adalah tabok. Kata tabok sendiri keluar setelah dia mengklaim selama ini diam karena isu yang mengkaitkan dirinya dengan PKI. Memang Jokowi juga manusia, yang belum bisa mengontrol emosi. Tetapi, perlu diingat dia adalah kepala negara yang sudah berang tentu menjadi contoh bagi masyarakat. Terlebih setiap gerak dan lakunya itu tersorot.

Belakangan, berdasarkan informasi kenapa Jokowi akhir-akhir ini “naik darah”, karena elektabilitasnya stagnan alias diam di tempat yakni masih di bawah 50 persen. Itu artinya Jokowi yang sekarang maju di Pilpres bersama Ma’ruf Amin khawatir karena secara elektabilitas terus merosot.

“Kondisi saat ini bisa mencermikan Jokowi putus asa atas atas keadaan hari ini. Akibatnya asal asal bunyi (asbun),” kata koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi ketika dihubungi belum lama ini.

Apa yang dilakukan Jokowi saat ini, kata dia, sama saja merendahkan diri sendiri di depan publik. Karena ya itu tadi, kerap melontarkan kata-kata yang kontroversi. “Semakin dia (Jokowi) lontarkan istilah dan kosa kata kurang baik maka sesungguhnya dia rendahkan diri sendiri,” jelasnya.

Tak hanya itu, tingkat elektoral Jokowi juga disebut oleh Lembaga Survei Median stagnan. Itu terlihat dari suara yakni di bawah 50 persen. Artinya, diskursus ekonomi tentang beratnya kebutuhan menjadikan elektabilitas pasangan nomor urut 01 tersebut stagnan.

“Dengan kata lain bertahannya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf ini juga dianggap belum mampu menaikkan elektabilitas Prabowo-Sandi,” ujar Direktur Eksekutif Median Rico Marbun di Cikini, Jakarta, Selasa (27/11).

Sementara, jika pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa meyakinkan publik, tidak menutup kemungkinan perolehan seperti Pilpres 2014 terulang kembali. “Kalau dia mampu meyakinkan mungkin Prabowo akan naik. Tapi kalau gagal, posisi suara kembali ke 2014 lalu,” kata Rico.  

Adapun, survei Median digelar pada 4-16 November terhadap 1200 responden. Menggunakan metode sampel acak berjenjang, survei mendapati tingkat kesalahan kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Survei yang sama juga dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia milik Denny J.A. Dalam surveinya, LSI menyebut tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi sebagai calon presiden masih mandek atau stagnan di bawah 50 persen.

(Nebby)