(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Kecenderungan kurs rupiah bergerak melemah terhadap dollar Amerika Serikat masih berlanjut. Kurs tengah rupiah pernah menyentuh Rp14.935 per dollar AS, level terendah dalam 20 tahun terakhir. Bahkan di penukaran uang, seperti di Bank BCA sempat tembus Rp15.000.

Berbagai kalangan menilai, rupiah yang melemah saat ini jauh berbeda dengan krisis moneter tahun 1998. Namun kendati demikian, rupiah melemah yang terjadi saat ini merupakan suatu kenyataan/realistis atau ketakutan secara politis? Mari kita bedah satu persatu.

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Denni Puspa Purbasari, mengungkapkan rupiah saat ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan situasi saat krisis, dua dekade silam. Setidaknya, ada tiga alasan yang menjadi bukti.

1. Pelemahan tidak drastis
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini relatif berlangsung secara perlahan dan tidak drastis. Sejak awal tahun hingga level terendahnya, rupiah melemah 9,3%. Bandingkan dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat krisis 1998. Tahun itu, pada 17 Juni, rupiah mencapai level terendahnya, Rp15.250 per dollar AS. Dihitung dari sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terjun 124,39%.

Volatilitas pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS selama krisis moneter 1997/1998 juga sangat tinggi dan bergerak dalam rentang yang lebar. Tahun 1998, rupiah bergerak pada rentang Rp5.650 – Rp15.250 per dollar AS. Dalam satu hari, rupiah bisa menguat 20,66% atau melemah 24,11%. Nilai rupiah yang terjun bebas, diikuti dengan fluktuasi yang tinggi, ketika itu membuat hitungan bisnis kacau dan masyarakat panik.

Berbeda dengan kondisi sekarang, pelaku usaha seharusnya masih bisa menyerap efek dari pelemahan rupiah yang tidak drastis dengan volatilitas yang relatif tidak terlalu tinggi. Sebab, pergerakan rupiah saat ini bisa dibilang relatif kalem, yakni di kisaran Rp13.542 – Rp 14.815 per dollar AS. Begitupun pergerakan harga hariannya, hanya menguat 0,98% dan melemah 0,61%.

2. Cadangan devisa jauh lebih besar
Kendati turun dari posisi akhir tahun 2017, posisi cadangan devisa (Cadev) saat ini jauh lebih besar dibandingkan krisi 1998. Saat itu, cadev hanya USD23,61 miliar sedangkan per akhir Juli 2018 cadev mencapai USD118,3 miliar. Cadangan tersebut membuat bank sentral memiliki lebih banyak “modal” untuk meredam gejolak nilai tukar. Melihat pelemahan hari ini, misalnya, Bank Indonesia bisa turun mengintervensi pasar sehingga pelemahan rupiah tidak terlalu dalam. Singkatnya, Bank Indonesia akan ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

3. Kepercayaan investor masih kuat
Minat investasi asing terhadap surat utang suatu negara merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung memperlihatkan baik buruk kondisi makroekonomi suatu negara. Logikanya, tidak ada investor yang mau menempatkan uangnya di negara yang tengah sakit. Ketika bank sentral AS mengerek suku bunga, memang terlihat investor asing menarik dananya dari pasar surat utang Indonesia. Namun, sejak awal bulan ini, asing kembali masuk ke pasar surat utang. Bahkan, per akhir pekan lalu, asing mencatatkan beli bersih Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp6,92 triliun. Ini memberi harapan, nilai rupiah ke depan akan cenderung stabil atau tidak akan jatuh terlalu dalam.

Memperkuat keyakinan itu, lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings mengafirmasi peringkat BBB untuk surat utang Indonesia dengan outlook stabil. Peringkat ini menunjukkan Indonesia termasuk di dalam kategori layak investasi (investment grade).

“Pemerintah akan memastikan bahwa fiskal bukan sumber dari ketidakpasatian,” Denni menegaskan.

(Baca:Rupiah dan bayang-bayang krisis 1998)

Next Page, Komisi XI DPR Panggil Gubernur BI

(Ismed Eka Kusuma)