Diketahui kebutuhan konsumsi BBM nasional saat ini sekitar 1,6 juta barel per hari dan diyakini akan terus bertumbuh. Sebaliknya, kemampuan produksi BBM nasional rata-rata 800.000 barel per hari. Untuk mencukupi konsumsi nasional, Indonesia terpaksa impor BBM lebih dari 600.000 barel per hari.

“Trend produksi migas kita itu menurun karena lapangan yang sudah tua, konsumsi kita naik semakin lama semakin tinggi. Mau tidak mau temen-temen di hulu migas harus mendapatkan giant discovery, karena itu satu-satunya untuk membantu Indonesia,” ujar Kepala SKK Migas periode 2014-2018 Amien Sunaryadi saat serah terima jabatan.

Untuk mendapatkan discovery, maka diperlukan eksplorasi yang masif dan menyeluruh di wilayah-wilayah yang berpotensi memiliki discovery. Selain mengalokasikan anggaran untuk peningkatan produksi migas nasional dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), saat ini Pemerintah juga telah mengantongi komitmen kerja pasti sebesar USD 2 milyar untuk 10 tahun mendatang.

“Sekarang ada komitmen kerja pasti untuk kegiatan eksplorasi untuk dipergunakan 10 tahun mendatang yang nilainya USD 2 milyar. Bentuk komitmen ini berbeda dengan komitmen wilayah kerja eksplorasi, kalau WK eksplorasi tidak menjalankan komitmen harus bayar tapi untuk membayarnya itu menagihnya susah, bahkan sebagian Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sudah hilang. Tapi karena ini adalah KKKS produksi maka jika tidak melaksanakan komitmen kerja pasti eksplorasi maka uangnya akan diambil oleh pemerintah,” tandas Amien.

Janji Dwi Soetjipto
Setelah secara resmi menerima jabatan sebagai Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto berjanji dalam waktu 3 bulan ke depan akan menyelesaikan sejumlah Plan of Development yang tertunda. Selanjutnya ia akan meningkatkan investasi guna meningkatkan produksi.

“Dalam 3 bulan pertama ada beberapa pending matters yang kita selesaikan rencana kerja 2019, beberapa POD yang pending harus kita selesaikan. Kemudian untuk meningkatkan produksi harus ada investasi, tentu saja investasi tahun 2018 akan berdampak 2019. Demikian juga 2019 kalau ada investasi akan berdampak di 2020 itu peningkatan produksi. Jadi nanti kendala-kendala yang berkaitan dengan upaya peningkatan produksi akan kami diskusikan dengan Pak Menteri,” pungkas dia.

View Fullscreen
(Dadangsah Dapunta)