Jakarta, Aktual.com – Wacana pemindahan ibu kota ke daerah dianggap tepat sejumlah kalangan. Sebab hal tersebut dapat mendorong tata kelola negara lebih cepat dan bersih. Di sisi lain, pertumbuhan bisnis dinilai akan lebih cepat meningkat. 
“Kebijakan Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota adalah rencana yang baik dan strategis,” kata Wakil Sekretaris TKN Ahmad Rofiq kepada wartawan, Senin, (30/4). 
Dia mengatakan banyak negara yang melakukan pemisahan antara ibukota dan pusat bisnis. Contohnya, Ibukota AS, yaitu Washington DC,  dan kota bisnis di New York. Begitu pula India, ibukota di New Delhi, kota bisnisnya di Mumbai.
Kebijakan ini dinilai sangat layak diberikan dukungan mengingat Jakarta terlalu padat. “Pemisahan ini akan menciptakan iklim bisnis sehat, jauh dari kongkalikong, jauh dari budaya suap dan jauh dari persekongkolan,” ujarnya. 
Sekjen Perindo itu juga mengatakan tata kelola negara yang lebih cepat mengarah kepada clear goverment dan good governance. Di ibu kota yang baru tersebut semua aparat pemerintah dapat bekerja dengan ketenangan dan kenyamanan. 
“Dulu, Bung Karno dan Pak Harto juga pernah mewacanakan perpindahan ibu kota. Dalam pemikirannya sama, yaitu ingin menciptakan birokrasi yang sehat dan iklim usaha yang bersih,” kata Rofiq.
Kini, lanjutnya, hal ini sudah sampai pada taraf kebutuhan bagi bangsa. “Agar kemajuan yang diinginkan dapat tercapai dalam waktu yang cepat. 5 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” jelasnya.
Sebelumnya, Jokowi memutuskan dalam rapat terbatas ibu kota negara dipindahkan dari Jakarta ke luar Pulau Jawa. Pertimbangannya, penduduk di Pulau Jawa sangat padat. 
Jumlah penduduk di Pulau Jawa saat ini sudah mencapai 57% dari total jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, di Sumatera 21%, Kalimantan 6%, Sulawesi 7%, Papua dan Maluku 3%.
Selain itu, kemacetan di Pulau Jawa cukup kronis, baik di Jakarta maupun wilayah Pantura. Selanjutnya, persoalan banjir dan kekeringan juga terus menjadi ancaman.
(Fadlan Butho)