Petani menanam ulang padi di lahan yang tanaman padi sebelumnya rusak dan gagal tumbuh akibat diterjang banjir di Ngawi, Jawa Timur, Minggu (4/12). Sejumlah petani di kawasan tersebut menderita kerugian akibat tanaman padi yang berumur sekitar dua minggu rusak dan gagal tumbuh akibat terendam banjir sehingga harus melakukan tanam ulang. ANTARA FOTO/Siswowidodo/aww/16.

Surabaya, Aktual.com – Program “urban farming” atau pertanian perkotaan dengan memberdayakan kelompok-kelompok tani menjadi salah satu solusi mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Presley mengatakan “urban farming” yang digagas sejak 2010 itu, dinilai mampu memberdayakan kelompok-kelompok tani di daerah tersebut, salah satunya di wilayah Kelurahan Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri.

“Sebagian besar masyarakat di wilayah Kelurahan Sumur Welut bekerja di bidang pertanian. Mereka menerapkan “urban farming” dengan memanfaatkan lahan kosong untuk usaha berbagai jenis pertanian, seperti bertanam padi, jagung, cabai dan sayuran,” jelasnya, Kamis (21/2).

Menurutnya, hampir sekitar 80 persen masyarakat di Kelurahan Sumur Welut memilih untuk bertanam cabai dengan alasan jenis tanaman hortikultura ini dinilai lebih menghasilkan keuntungan dengan masa tanam yang relatif cepat.

“Utamanya di sini itu berupa tanaman cabai kecil, nah baru tahun ini kita mencoba tanaman untuk jenis cabai besar,” ujarnya.

Ia mengatakan di wilayah Kecamatan Lakarsantri terdapat delapan kelompok tani, dengan anggota berjumlah sekitar 622 orang. Sementara untuk luas lahan pertanian, mencapai 457 hektare dan saat ini masih aktif dikerjakan oleh para petani.
Kendati demikian, lanjut dia pihaknya mengaku, akan terus memberikan pendampingan kepada para kelompok tani agar hasil panen mereka bisa terus melimpah.

Artikel ini ditulis oleh: