(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, aktual.com – Awal Tahun 2019 bisa dikatakan sebagai startyang sesungguhnya bagi para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden di pemilihan umum khususnya pemilihan presiden (Pilpres) mendatang.

Pasalnya, banyak yang menilai jika kurun waktu selama delapan bulan yang disediakan komisi pemilihan umum (KPU) RI sebagai penyelenggara terkait masa kampanye sejak September 2018 hingga April 2019, dirasa terlalu panjang dan tidak efektif. Terlebih, penyelenggara cenderung pasif terhadap kegiatan di awal kampanye atau empat bulan pertama.

Salah satunya, terlihat dari sejak dimulainya masa kampanye , masing-masing kandidat cenderung bermain pada level penggalangan opini politik atau belum masuk pada tahapan penyampaian konsep atau gagasan yang diperlukan publik sebagai pemilih. Hingga akhirnya, muncul istilah kampanye bernuansa ‘recehan’.

Seperti yang sempat dikritisi Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang mengesankan jika lamanya waktu masa kampanye menjadi sesuatu yang sia-sia, khususnya bagi rakyat Indonesia. Padahal, Pemilu 2019 sangat jauh berbeda konsepnya dengan pelaksanaan Pemilu 2014 kemarin.

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah melalui Twitter miliknya FahriHamzah, Minggu (18/11). “Dulu kampanye hanya 3 bulan dan sekarang hampir 8 bulan, dan ibarat (pertandingan) tinju, dulu 12 ronde sekarang 30 ronde. Kalau, tidak jaga stamina bisa2 keduannya lempar handuk,” kata Fahri sebagaimana dikutip dari akun twitternya tersebut.

“Tapi saya sayangkan @KPU_ID tidak mengantisipasi ini semua, sehingga KPU lebih hanya (fokus) mengatur di 2-3 bulan terakhir saja,” tambahnya.

Sehingga, masih dikatakan Fahri, penyelenggaraan Pilpres dan Pileg yang dilakukan bersamaan justru semakin menambahkan biaya dan cenderung menyediakan ‘tontonan yang miskin kreativitas’.

“Dulu Pileg dulu baru Pilpres. Tenaga partai dibagi dua dalam durasi yang berbeda. Tapi sekarang Pileg2019 dan Pilpres2019 berlangsung sama dengan durasi (masa kampanye) panjang, @KPU_ID lupa bahwa Pileg tak akan menarik. Sementara Pilpres dibiarkan tanpa pengaturan teknis yang jelas,” pungkas politikus PKS itu.

Awal Tahun Pertarungan Kian Seru?

(Novrizal Sikumbang)