Capres nomor urut 01 Joko Widodo ( kedua kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Polarisasi di tengah persaingan politik dalam proses pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 menghasilkan perkubuan politik yang mengarah pada relasi tidak sehat antar pendukung.

Bahkan, relasi cenderung predatorik antar-calon legislatif (Caleg).

Peneliti Politik dari Explosit Strategic, Arif Susanto menilai akibat polarisasi itu, muncul pengungkapan skandal para Caleg yang lebih dimaksudkan untuk menjatuhkan lawan ketimbang untuk memberi informasi lebih utuh kepada calon pemilih.

“Mengetahui rekam jejak Caleg menjadi syarat penting bagi seorang pemilih cerdas. Pemilih cerdas mengambil putusan berdasarkan pertimbangan atas informasi yang dimilikinya,” kata Arif di Jakarta, Rabu (10/4).

Sejumlah skandal pribadi Caleg beredar di media sosial. Yang paling terakhir, di media sosial dihebohkan dengan dugaan beredarnya foto-foto mesum Caleg partai.

Tak hanya skandal pribadi, sejumlah kasus korupsi yang melibatkan Caleg juga menjadi sorotan masyarakat.

Lanjut Arif, agar pemilih lebih cerdas dalam memilih Caleg di Pemilu 2019. Seharusnya, KPU mendorong mekanisme agar para Caleg mengembangkan transparansi. Misalnya, bekerjasama dengan KPK untuk mengumumkan laporan harta kekayaan negara.

Selain itu, para Caleg juga perlu melibatkan diri bersama publik dalam model-model kampanye dialogis sekaligus kritis.

“Terakhir, para Caleg dapat memanfaatkan media massa dan media sosial sebagai medium komunikasi politik berjangkauan luas,” sarannya.

Menurut Arif, semakin informatif, semakin mungkin seorang calon pemilih dapat membuat pilihan cerdas.

“Secara akumulatif, pilihan cerdas itu akan memberi pengaruh besar terhadap kebaikan bersama,” pungkas dia.

(Zaenal Arifin)