Alabama, Aktual.com – Pengadilan Federal Amerika Serikat pada Kamis (7/2) menunda eksekusi yang sudah terjadwal dari seorang tahanan Muslim di Alabama dengan alasan negara bagian itu kemungkinan melanggar hak beragamanya dengan menolak menghadirkan seorang imam menjelang kematiannya.

United States Court of Appeals for the Eleventh Circuit pada Rabu mengatakan pihaknya telah memberikan penundaan tanpa batas kepada Dominique Ray, sehari sebelum dia dijadwalkan akan dieksekusi melalui suntikan mati lantaran membunuh gadis berusia 15 tahun, lebih dari 23 tahun yang lalu.

Panel yang terdiri dari tiga hakim menuliskan bahwa tampaknya Alabama berpotensi melanggar Klausul Pembentukan Amendemen Pertama Konstitusi AS, yang berkaitan dengan hak-hak beragama.

Negara bagian Alabam pada Rabu mengajukan banding penundaan eksekusi.

Alabama Department of Corrections (ADOC) menolak permintaan pria berusia 42 tahun tersebut untuk mendatangkan imam menjelang eksekusinya, mengatakan bahwa hanya staf ADOC saja yang dapat dihadirkan di kamar eksekusi, kata negara bagian tersebut dalam dokumen pengadilan.

Menurut negara bagian Alabama, seorang pendeta penjara yang dipekerjakan oleh departemen tersebut diizinkan untuk hadir menjelang eksekusi namun penasihat spiritual yang lain harus menyaksikannya dari sebuah ruangan peninjau.

Ray dinyatakan bersalah atas penikaman fatal terhadap gadis berusia 15 tahun bernama Tiffany Harville, yang menghilang dari rumahnya di Selma, Alabama pada Juli 1995. Jasadnya ditemukan sebulan kemudian di sebuah lapangan.

Ant.

(Zaenal Arifin)