Suasana museum Bursa Efek Indoneaia (BEI) di Jakarta, Kamis (26/4). Kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih akan berlangsung hingga tahun depan serta imbal hasil surat utang AS yang menembus level psikologis menyebabkan pasar saham Asia meriang sepekan ini. IHSG turun 2,81% ke 5.909. IHSG menggenapi penurunan sepekan atau lima hari perdagangan berturut-turut. Kamis (26/4), Dalam lima hari penurunan, IHSG merosot 7,03%. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan menguat seiring para pelaku pasar yang masih menanti perkembangan negosiasi dagang Amerika Serikat dan China.

IHSG Senin pagi dibuka menguat 20,93 poin atau 0,32 persen ke posisi 6.522,31. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 5,09 poin atau 0,5 persen menjadi 1.020,56.

“IHSG akan bergerak ‘mixed’ minggu ini, mengingat pelaku pasar yang menantikan perkembangan pembicaraan dagang AS-China dan data inflasi Indonesia yang akan dirilis akhir pekan mendatang. Namun, sentimen positif akan datang dari rilis laporan keuangan,” kata Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Senin (25/2).

Wakil Perdana Menteri China Liu He dijadwalkan akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Oval Office. Staf kedua negara juga tengah bekerja keras untuk merumuskan bahasa yang tepat untuk perjanjian dagang tersebut. Salah satu kendala adalah AS bersikeras merumuskan mekanisme yang memastikan China patuh pada perjanjian.

“Kami cukup optimistis terhadap pembicaraan itu mengingat ‘effort’ yang tinggi dari kedua belah pihak sebelum tanggal 1 Maret 2019. Sedangkan Trump juga telah mengindikasikan dirinya tidak terburu-buru dalam mengenakan tarif tambahan dan ‘deadline’ dapat bersifat fleksibel,” ujarnya.

Perang dagang AS-China mereduksi proyeksi pertumbuhan global tahun ini dan melemahkan ekonomi kedua negara. Inflasi AS pada Januari hanya 1,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau terlemah dalam 1,5 tahun terakhir, demikian juga data ekonomi terbaru di China dengan pertumbuhan harga rumah baru justru melambat secara bulanan (month on month/mom).

Artikel ini ditulis oleh: