Calon konsumen memilih jilbab di salah satu gerai di sebuah pusat perbelanjaan di pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (5/6/2017). Pedagang pasar Tanah Abang mengejar omset sebulan puasa atau Ramadan itu bisa Rp 700 juta sampai Rp 800 juta sampai malam takbiran. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Sejumlah pelaku industri kecil dan Menengah (IKM) di Pasar Tanah Abang mengeluhkan ketersediaan kain impor untuk diproses menjadi pakaian jadi.

Asep salah satu pelaku IKM mengatakan bahwa sebagian besar pelaku IKM di Tanah Abang membutuhkan kain impor karena saat ini para pelaku IKM bersaing dengan produk jadi impor di pasaran.

“Tahun lalu mudah didapatkan [kain jadi impor], sekarang ini sulit. Padahal sekarang ini kebanyakan [produsen] memproduksi [kain jadi] impor,” katanya, Senin (20/5).

Dikatakan Asep bahwa para pelaku IKM membutuhkan 50% dari kapasitas produksinya masing-masing, Adapun, selebihnya dipenuhi oleh kain jadi yang diproduksi di dalam negeri.

Sementara itu menurut Sekretaris Jenderal
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ernovian G. Ismymengungkapkan bahwa pihak asosiasi mendukung kebijakan pembatasan impor.

Akan tetapi, imbuhnya, otoritas juga harus memperhatikan ketersediaan kain jadi di dalam negeri sebelum membatasi impor. “Jangan sampai nanti kekurangan [bahan baku] tapi tidak ada solusi,” paparnya.

(Abdul Hamid)