Jakarta, Aktual.com – Kinerja Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) masih mencatatkan kinerja tak mudah sepanjang kuartal III-2018, terutama dari hasil investasi para perusahaan asuransi jiwa tersebut.
Namun demikian, dibanding kuartal III di tahun sebelumnya, hasil investasi AAJI di tengah fluktuasi pasar modal itu mulai mencatatkan kinerja perbaikan.
Menurut Ketua Bersama AAJI, Wiroyo Karsono, hasil investasi hingga akhir September 2018 menurun cukup besar sebesar 96,1% menjadi Rp1,28 triliun dari Rp32,53 triliun secara year on year (yoy).
Kondisi tersebut, kata dia, disebabkan oleh pasar investasi yang masih kurang stabil dan kurang baik. “Sehingga berdampak signifikan terhadap investasi yang kami lakukan,” tegas dia di kantornya, Jakarta, Jumat (7/12).
Meski begitu, jelasnya, tren di kuartal III sudah membaik. Pasalnya penurunan di kuartal II-2018 turunnya di atas 100% atau di posisi minus 135%.
“Jadi walaupun masih turun tapi turunnya sudah berkurang. Sekarang ini IHSG sudah berada di atas level 6.000 (6.100-an). Itu level psikologis yang membuat kita semakin positif. Semoga terus berlanjut, sehingga investasi sudah bisa naik lagi,” terang dia.
Dengan kondisi itu, jelasnya, maka jumlah investasi industri asuransi jiwa mengalami perlambatan sebesar 0,02% dibanding periode sama di 2017 dari Rp457,64 triliun menjadi RP457,55 triliun.
Untum komposisi investasinya, kata dia, instrumen investasi di reksadana tetap jadi kontributor terbesar atau di angka 33,3% dari total asuransi jiwa di Indonesia.
“Reksadana ini mengalmai kenaikan 0,4% dibanding kondisi sama periode sebelumnya,” kata dia.
Untuk porsi kedua, meskipun ada fluktuasi ternyata portofolio saham kontribusinya sebesar 32,4% atau mengalami kenaikan 11,5%.
Dan selanjutnya investasi di Surat Berharga Negara (SBN) yang sebesar 14% atau turun 7,1% dibanding kuartal III tahun lalu.
“Ddn terakhir deposito 9,3% atau turun 18%. Dengan kondisi saat ini kami yakin di 2019 akan membaik, sehingga porsi investasi di saham bisa naik lagi,” jelasnya.
Menurutnya, tahun depan pertumbuhan hasil investasi AAJI bisa lebih baik. Pasalnya, kondisi perekonomian domestik secara fundamental membaik dan diharapkan kondisi global juga kian positif.
“Jadi dari pencapaian itu terlihat bahwa industri asuransi jiwa terus tumbuh dan memiliki peran yang signifikan dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional,” katanya.
Kendati hasil investasi menurun, kata dia, para pemegang polis tak perlu khawatir. Karena investasi asuransi jiwa itu sifatnya jangka panjang (long term).
“Dan volatilitas (IHSG) itu jangka pendek. Kalau kita investasi itu longterm. Jadi jangan panik,” pungkasnya.
(Zaenal Arifin)