“Seseorang yang hatinya dipenuhi mahabbah kepada Allah Swt, baginya tidak akan ada perbedaan antara nikmat dan musibah, antara emas dan tanah, karena ia hanya memandang Sang Pemberi anugerah itu sendiri yakni Allah Swt,” katanya.

“Bahkan ia meyakini bahwa segala yang datang dari Allah Swt berupa kebahagiaan dan kesedihan, kecukupan dan kekurangan, tidak lain adalah untuk mendidik dan menjadikannya hamba/abdun yang sejati.

Dirinya hanya sibuk memikirkan masa depan akhiratnya, apakah ia akan bertemu dengan kekasih yang dicintainya/Allah Swt kelak?” tambahnya.

Seperti inilah berpikirnya Rasulullah Saw sebagaimana di katakan Sayidina Ali as. dalam sebuah riwayat :

و أما تفكيره ففيما يبقى ولا يفنى

Artinya: “Adapun berpikirnya Rasulullah saw adalah terhadap sesuatu yang kekal (Akhirat) , bukan sesuatu yang fana (Dunia)”

(Abdul Hamid)