“Para guru dari kalangan thoriqoh Syadziliyah sangat menekankan pentingnya pekerjaan atau profesi seorang Salik. Suatu Hal krusial yang banyak dilupakan oleh orang-orang yang menjalani laku tasawwuf. Seorang Salik hendaknya memiliki asbab (usaha) didalam mencari rizki yang halal, ia harus berusaha untuk bisa makan dari keringatnya sendiri sebagai mana banyak dicontohkan oleh para masyayikh thoriqoh terdahulu. karena saat ini banyak sekali orang yang sangat puritan didalam masalah fiqhiyah terkait urusan ibadah mahdoh, namun sangat begitu sekuler dalam masalah penghasilan dan mu’amalah. Hal ini yang banyak dilakukan para Ulama’ Suu’ dan orang-orang yang berlagak sebagai Sufi di Zaman ini. Na’udzubillahi min dzalik.” tambah Kyai Nafis.

Maulana al-Imam Abul Hasan As-Syadzili Ra, berkata, “Siapa yang bekerja keras dan tetap teguh dalam menjalankan perintah Allah Swt, Ia berarti telah sempurna mujahadahnya”.

Murid dan khalifah beliau al-Imam Abul Abbas al-Mursi Ra juga berkata : “Bekerjalah! Jadikan alat tenunmu sebagai tasbih, kapakmu sebagai tasbih, jahitanmu sebagai tasbih”.

Di dalam Lathoiful Minan Al-Imam Ibnu Atho’illah Ramengisahkan saat beliau menemui gurunya yang tidak lain adalah Syeikh Abul Abbas al-Mursi, beliau berniat mengutarakan keinginannya kepada sang guru untuk meninggalkan asbab (usaha), dan mengabdikan seluruh waktunya untuk beribadah, tidak disibukkan dengan ilmu dzohir, seraya berkata kepada sang guru, “hanya inilah cara untuk sampai kepada Allah Swt”.

Namun, tanpa merespon ucapan sang murid, sang guru berkata, “aku punya kawan dikota Qus. Namanya ibnu Nasyi. Ia seorang syeikh yang juga berprofesi sebagai wakil hakim. Ia merasa telah mendapatkan ilmu hakikat melalui diriku sehingga ia berkata,” Syeikh, bolehkah aku meninggalkan pekerjaanku agar bisa terus menyertaimu?” kukatakan kepadanya, “bukan begitu caranya.

Tetaplah dalam posisi yang Allah Swt berikan kepadamu. Bagian untukmu yang Allah Swt berikan kepadamu pasti akan sampai kepadamu. Itulah ahwal kaum shiddiqin. Mereka keluar dari sesuatu ketika allah sendiri yang mengeluarkan mereka’ mendengar kisah itu, Syaikh Ibnu Atho’illah Ra langsung beranjak dari hadapan sang guru.

(Abdul Hamid)