Jakarta, Aktual.com – Pada saat ini, kita dihadapkan pada realitas hancurnya beberapa negeri muslim akibat perang antar sodara seiman dan sebangsa. Bermula dari perbedaan paham lalu muncullah fitnah dan kebencian.

Bisikan-bisikan iblis yang merasuk dalam hati menghilangkan rasa ukhuwah yang seharusnya dijaga dengan kesabaran dan saling mengasihi ( As-shobr wal marhamah). Rasa Kasih Sayang (Rahmaniyah) yang selayaknya menjadi dasar dalam bertutur dan bersikap seolah lenyap ditindih hawa amarah dan kebencian sehingga merasa diri paling benar dan paling baik.

Apakah ini pertanda diangkatnya rahmat Allah dari hati kaum muslimin atau bagi negara-negara yang justru muslimnya mayoritas ? entahlah, namun munculnya benih-benih fitnah dan ujaran kebencian yang melanda suatu negeri bisa jadi merupakan indikasi awal tentang diangkatnya rahmat Allah akibat perbuatan kita sendiri sebagai manusia.

Tidak jarang berawal dari fitnah dan permusuhan pada akhirnya berujung pada peristiwa paling tragis dan mengerikan, yaitu perang.

Sebaibagaimana lazimnya, dalam perang tidak kita jumpai hubungan kasih sayang antar manusia. Diktum yang berlaku adalah bellum omnia contra omnia/perang-semua melawan semua, manusia bagai serigala bagi manusia lainnya.
Berkecamuknya perang menunjukkan ada yang hilang pada batin manusia, yakni kasih-sayang.

Kita berharap maraknya ujaran kebencian, fitnah dan hoax yang terjadi di tengah masyarakat saat ini bukanlah indikasi dicabutnya rahmat Allah sehingga tidak menimbulkan terjadinya kekerasan apalagi perang seperti yang melanda sodara-sodara kita di tempat lain.

(Abdul Hamid)