Pekerja mengambil telur di kandang ayam petelur Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (4/4). Akibat cuaca tidak menentu dan hujan hasil produksi telur menurun, dari biasanya menghasilkan 15 peti saat ini hanya mampu memperoleh 12 peti telur atau 4,5 kuital telur per harinya dengan harga jual Rp17.000 per kilogram. Para peternak berharap pemerintah dapat menstabilkan harga telur dipasaran serta mempunyai harga standar. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/17

Jakarta, Aktual.com – Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mendesak agar pemerintah bertindak lebih konkret terkait kisruh murahnya harga ayam di tingkat peternak.

Bahkan menurutnya kalau kelebihan stok merupakan penyebab utama munculnya persoalan tersebut. Tak hanya itu kata Pinsar, kalau kebijakan di hilir itu tidak akan berjalan, jika kondisi dan kebijakan di hulu tidak dibenahi secara serius.

“Sebenarnya sekarang sudah ada yang mengurangi, tapi tidak semua. Semestinya ada peraturan menteri yang mendasari kebijakan itu supaya lebih efektif. Kalau seperti ini cuma memberi harapan palsu saja,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (25/6).

Dikatakan Singgih kalau Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian yang sudah mengambil sikap dengan mengeluarkan instruksi untuk memangkas jumlah anak ayam (day old chicken/DOC) selama periode 24 Juni hingga 23 Juli mendatang belum direalisasikan di lapangan.

“Aturan yang diterbitkan tidak memiliki payung hukum yang kuat sehingga hanya dianggap angin lalu oleh para produsen DOC,” paparnya.

Menurut Singgih kalau hal tersebut dilihat dari harga jual ayam di beberapa daerah sentra sempat menyentuh Rp8.000 per kilogram (kg), padahal biaya produksi yang dibutuhkan mencapai Rp18.500 per kg.

Anehnya, ketika harga di peternak merosot tajam, harga jual ayam di pasar atau di tingkat konsumen tetap tinggi yakni berkisar Rp35.000 per kg.

(Abdul Hamid)