Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo memberikan sambutan saat peluncuran buku Komunikasi Politik Jokowi di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (9/3). Buku tersebut mengupas bahasa komunikasi politik Presiden Jokowi yang lebih banyak menggunakan langkah nyata untuk melawan serangan politik dari pihak lain. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengemukakan Indonesia bisa memanfaatkan peluang dari efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China dengan membangun platform teknologi digital dalam negeri.

“Perang dagang antara AS dan Chinaakan berlangsung cukup lama, dan efeknya bukan hanya pada sektor ekonomi, tapi juga ideologi kedua negarasehingga harus diwaspadai,” kata Bambang Soesatyo di Jakarta, seperti dikutip melalui siaran persnya, Sabtu (6/7).

Menurut Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet, pada perang dagang itu, AS merasa kalah dengan derasnya impor barang dari China sehingga memasang tarif masuk yang tinggi untuk mengambil keuntungan, sekaligus melindungi produk manufaktur dalam negeri AS. Karena itu barang produk China menjadi lebih mahal.

Dari perang dagang AS-China ini, kata dia, ada peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia, khususnya bagi kaum milenial, yakni membangun platform teknologi digital dalam negeri.

“Indonesia harus mencontoh apa yang dilakukan China dalam lima tahun terakhir, yakni membangun sektor swasta dengan perlindungan ketat dari negara. Misalnya jejaring pertemanan REN REN dilindungi oleh Pemerintah China. Facebook tidak boleh masuk sehingga REN REN menguasai 80 persen jejaring perkawanan di China,” kata Bamsoet.

Bendahara Umum DPP Partai Golkar 2014-2016 ini menambahkan, Pemerintah China juga melindungi sektor transportasi digital. Setelah Didi Chuxing Online Transportation menguasai 80 pasar China, Uber baru boleh masuk.

“Alibaba menguasai 80 persen pasar China, baru Amazon boleh masuk. Baidu menguasai lebih dari 80 persen pasar China, baru Google boleh masuk sebagai search engine. Yoku menguasai 80 persen pasar China, Youtube baru boleh masuk,” katanya.

Bamsoet menegaskan, jika Indonesia ingin maju, maka aplikasi dari putra-putri Indonesia harus dilindungi lebih dahulu. “Saya mendorong putra bangsa Indonesia membuat platform digital teknologi sendiri,” katanya.

“Buat Google versi Indonesia sendiri atau buat Facebook versi Indonesia sendiri. Semua platform digital teknologi putra bangsa tersebut harus dilindungi secara maksimal oleh negara,” kata Bamsoet.

(Arbie Marwan)