Capres petahana Jokowi sepertinya sedang galau, bagaimana tidak upaya kubu petahana dalam satu tahun terahir untuk mencitrakan diri terkesan dekat dengan umat tiba-tiba saja buyar dalam sekejap. Reuni 212 adalah salah satu pokok perkaranya.

Upaya serius Jokowi untuk meredam citra negatif terhadap pemerintahannya satu tahun terakhir sangat gencar dilakukan. Citra rezim anti Islam dan tuduhan meng-kriminalisasi ulama menjadi titik lemah Jokowi untuk kembali terulang pertarungan lama head to head antara Jokowi vs Prabowo dalam pilpres 2019 mendatang.

Sadar akan citra negatif tersebut, Jokowi dan partai pengusungnya melakukan pendekatan yang intensif kepada simpul-simpul basis massa pemilih muslim.

Kunjungan ke pesantren menjadi agenda rutin sang presiden dengan intensitas yang cukup tinggi untuk kembali meyakinkan para ulama dan kiyai di pesantren  bahwa pemerintahannya berpihak pada umat dan bukan anti Islam seperti yang dituduhkan selama ini.

Salah satu bukti keberpihakan Jokowi terhadap umat, menit-menit terahir (last minute) Jokowi memutuskan memilih ulama yaitu Kiyai Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden pendampingnya.

Pilihan politik ini tentu punya motif yang sangat jelas, Jokowi ingin meredam sentimen anti Islam yang dicitrakan pada dirinya dan sekaligus merespon isu SARA yang dituduhkan selama ini.

Apakah Ma’ruf Amin sebetulnya gagal atau berhasil dongkrak elektabilitas Jokowi di mata umat?.

“Saya mencermati Kiyai Ma’ruf Amin yang diharapkan Jokowi mampu mengambil empati ceruk segmen pemilih muslim dianggap belum berhasil, belum menemukan isu dan momentumnya, kesimpulan yang tidak terlalu premature,”kata Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago (Ipang) yang diterima aktual.com, Selasa (4/12/2018).

Apakah ada aroma politis dalam reuni 212?. Ia mengatakan tentu ada, gerakan moral melawan kriminalisasi ulama, penistaan agama dan ghiroh persaudaraan, persatuan sesama umat adalah agenda utamanya. Sementara konsolidasi politik mengarah pada salah satu capres hanya bagian dari bonus saja.

Penolakan secara halus dengan pelbagai alasan penyelenggara reuni 212 sehingga tidak jadi mengundang Jokowi dalam reuni tersebut jelas bau amis aroma politisnya. “Hilang aroma politisnya apabila Jokowi dan Prabowo hadir dalam reuni tersebut, menyusun kata dan diksi yang meneduhkan, menyejukkan dan menyematkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa,” terang dia.

Lalu, hadir di acara reuni. apakah Prabowo diuntungkan secara elektoral?. Prabowo mendapat panggung sehingga tercitrakan sebagai Capres yang empati, peduli dan bagian dari umat, hadir memberikan semangat, menyapa dan menyalami massa reuni 212.

“Prabowo angkat topi dan sangat bangga dengan persaudaraan dan persatuan umat Islam. Itu yang saya maksud bahwa Prabowo cukup berhasil memainkan, mengelola perasaan sentimen umat,” sebut Ipang.

Pertanyaan sederhana, seberapa besar pengaruh massa alumni 212 dalam Pilpres 2019? Benarkah suara mereka lebih cenderung ke Prabowo? Sulit secara logika sehat massa reuni 212 memilih Jokowi.

“Ada hubungan kausalitas sebab akibat, karena pemerintah terkesan membiarkan kriminalisasi terhadap ulama dan penistaan agama terus berlanjut, sehingga memantik gerakan reuni massa  212 terulang dan nampaknya akan terus membesar sampai menemukan titik momentumnya, yang jelas massa reuni 212 anti tesis dari Jokowi, mereka menyampaikan pendapat, pikiran, aspirasi dan berkumpul dalam peristiwa tersebut,” ujarnya.

Ketidak-hadiran Jokowi dalam reuni 212  apakah merugikan elektabilitas Jokowi?, tentu sangat merugikan dirinya, di mana panggung “gratis” ummat Islam menjadi milik Prabowo, alumni 212 dan umat Islam semakin solid menguatkan dukungannya pada Prabowo karena soal sikap dan keberpihakan Prabowo terhadap umat.

Tidak bisa dinatikan show of force reuni 212 mengerdilkan Jokowi, acara peringatan Maulid di Masjid Istiqlal dihadiri sedikit orang. Jokowi tidak bisa menandingi ghiroh reuni 212.  Lagi-lagi langkah keliru, salah langka (jebakan batman) menggapa Jokowi harus menghadiri hajatan Maulid Nabi di Mesjid Istiqlal yang waktunya bersamaan dengan konsolidasi massa reuni 212?.

“Semestinya Jokowi jangan membiarkan panggung “besar” umat Islam tersebut dinikmati Prabowo. Dengan kehadiran Jokowi dapat dipastikan panggung itu akan menjadi miliknya layaknya aksi 212 terdahulu, semua sorot mata dan kamera akan tertuju pada Jokowi, Prabowo hanya akan menjadi pelengkap saja,” tutur Ipang.

“Tidak hanya itu, kehadiran Jokowi dalam reuni tersebut bisa menjadi pertimbangan kembali sebagian massa reuni 212 memilih Jokowi. Namun setelah Jokowi tidak hadir dalam peristiwa monumental reuni 212, sudah dipastikan massa reuni 212 dan umat Islam semakin mantap meninggalkan Jokowi.”

Nasi sudah jadi bubur, momentum politik sudah berlalu dan Prabowo mendapat poin istimewa. Selain Prabowo menemukan momentumnya dan berhasil melakukan konsolidasi politik menjelang hajatan Pilpres lima tahunan.

View Fullscreen
(Novrizal Sikumbang)