Ilustrasi yoga untuk anak (AKTUAL/ ISTIMEWA)

Jakarta, Aktual.com – Pernahkah anak Anda berbohong? Mungkin iya beberapa kali. Anak-anak cenderung senang bercerita hal yang terlalu dilebih-lebihkan atau anak bercerita suatu kejadian yang ditambahkan dengan imajinasinya, Namun, jika tanpa tindakan yang tepat, berbohong bisa menjadi kebiasaan yang buruk. Anak berbohong bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Berikut alasan anak berbohong yang paling umum.

Berikut adalah tiga alasan utama mengapa anak berbohong:

1. Anak-anak menggunakan imajinasinya untuk bercerita

Apakah anak Anda pernah memberitahu Anda bahwa ia sedang pergi ke bulan? Atau anak Anda bercerita bahwa ia bisa mengendarai awan?

Anak-anak memiliki imajinasi yang tinggi dan indah. Terkadang anak-anak menyajikan fantasi mereka sebagai kebenarannya. Biasanya ia berimajinasi sesuai apa yang pernah ia dengar, seperti dari dongeng atau melihat di film kartun.

Jika anak Anda memiliki kebiasaan menceritakan imajinasi yang berasal dari dunia dongeng, Anda bisa menanggapinya dengan jawaban yang tidak menghakimi. Misalnya, “Apakah itu sesuatu yang kamu inginkan akan terjadi atau itu memang benar-benar terjadi?” pertanyaan yang tidak menghakimi akan mendorong si kecil untuk mengakuinya.

Meski begitu, memiliki imajinasi tak selamanya buruk. Bantu anak Anda untuk mengarahkan imajinasinya. Beri tahu si kecil bahwa ia masih dapat menceritakan cerita-cerita hebat, selama ia menjelaskan bahwa cerita itu hanya harapan atau keinginannya.

Dengan begitu, anak Anda akhirnya dapat belajar untuk memulai kisah fantasinya dengan mengatakan, “Bayangkan jika ini terjadi …”

2. Anak-anak ingin menghindari hukuman

Apakah anak Anda pernah diam-diam mengambil sepotong kue di atas meja, tapi tidak mengakuinya, meskipun terlihat ada sisa bekas kue di wajahnya?

Mungkin ini mirip dengan cara orang dewasa yang berbohong untuk menghindari pertengkaran dengan pasangan. Begitu juga, anak berbohong biasanya untuk menghindari hukuman. Ia takut jika jujur, Anda akan marah atau menghukumnya.

Jika Anda mengetahui anak Anda sedang berbohong, tawarkan satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya. Katakan, “Ibu akan memberi kamu waktu sebentar untuk memikirkannya dan ibu akan bertanya lagi apa yang sebenarnya terjadi”.

Bila nyatanya Anda sering memergoki anak berbohong, coba lihat lagi bagaimana cara Anda mendisiplinkannya selama ini. Apakah terlalu tegas dan keras atau sebaliknya. Pasalnya dalam beberapa penelitian diketahui bahwa anak akan cenderung berbohong ketika sangat takut dengan orangtuanya yang terlalu keras.

3. Anak-anak ingin terlihat keren di depan orang lain

Alasan lain anak berbohong juga karena ingin mengesankan orang lain. Anak Anda mungkin bercerita pada teman-temannya bahwa ia bisa mencetak gol terbanyak saat bermain sepak bola. Atau anak Anda memberi tahu Anda bahwa ia mendapat nilai matematika tertinggi di sekolahnya, bahkan ketika itu tidak benar.

Membesar-besarkan kebenaran atau bahkan berbohong sering digunakan untuk menutupi ketidakpercayaan diri mereka. Dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya, anak-anak kadang-kadang bersikeras bahwa ia harus mengalami pengalaman yang sama dengan teman-temannya, atau ia mencoba untuk mengesankan teman-temannya dengan ceritanya.

Jika anak Anda memiliki kebiasaan berbohong agar terlihat baik di depan orang lain, ia mungkin membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Bicaralah pada anak Anda tentang konsekuensi dari berbohong dan ajak anak Anda untuk bicara sesuai dengan keadaannya. Bantu ia menemukan cara untuk terhubung dengan orang lain tanpa berbohong tentang pengalamannya.

Pujilah usahanya, bukan hasilnya sehingga ia akan mengenali nilai kerja kerasnya. Misalnya, daripada memuji ia karena mendapatkan gol terbanyak di pertandingan sepak bola, pujilah ia karena berusaha keras. Tegaskan kepadanya bahwa ia tidak perlu menjadi yang terbaik untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain atau terlihat keren di depan orang lain.

Cara menanggapi saat Anda memergoki anak berbohong

Terkadang, mungkin tepat untuk memberikan konsekuensi tambahan untuk anak berbohong. Katakan kepada anak Anda, “Kamu tidak bisa main videogame akhir pekamn ini karena kamu tidak mengejakan tugas sekolah, dan karena kamu juga berbohong tentang itu, kamu juga tidak bisa menonton TV.

Selain itu, jadikan kejujuran sebagai prioritas di rumah Anda. Buat aturan rumah yang mengatakan, “Katakan yang sebenarnya,” dan anak-anak Anda akan lebih cenderung menyadari pentingnya bersikap jujur.

Hellosehat.

(Dadangsah Dapunta)