(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Dua sepeda itu masih terpakir di atas marmer berwarna putih. Selain berdebu, ada sedikit perbedaan ketika pertama kali kendaraan roda dua itu pertama kali terpakir di gedung merah putih ini.

Jika dahulu masih diletakan diatas sebuah dengan karpet berwarna hitam, kini bersentuhan langsung dengan marmer. Jika dahulu bersanding dengan banner bertuliskan “16 bulan Gelap Gulita”, kini terdapat baner baru bertuliskan “Kami Dibiarkan Buta, Presiden Kemana?

Memang sejak pertama kali sayembara ini dibuat, belum ada satu pun yang berhasil menjawab siapa pelaku penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan. Slogan “Tuan Presiden Janjinya mana” pun hanya sekedar slogan, karena pertanyaan itu belum juga terjawab sebab kini tuan Presiden sibuk kampanye.

Kini 500 hari sudah sejak subuh kelabu itu merenggut salah satu bola mata milik Novel. Sejak 11 April 2017 itu pula janji-janji akan untuk mengusut tuntas diucapkan. Namun selama 500 hari itu pula, belum terungkap siapa orang yang melakukan penyiraman air keras itu.

Presiden Jangan Takut

Yang lebih menyakitkan lagi, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) juga tidak kunjung dibentuk. Hal ini yang kemudian membuat Novel menarik kesimpulan bahwa kasusnya sengaja tidak diungkap.

“Saya ingin menyampaikan bahwa penyerangan kepada saya adalah penyerangan yang sengaja tidak diungkap. Saya katakan, sengaja tidak diungkap,” ujar dalam diskusi di Gedung Penunjang KPK, Jalan Kuningan Persada, Kamis (1/11/2018).

Novel pun tidak percaya jika kemudian ada yang menyebut kasus penyerangannya sedang diproses. Dalam beberapa kali kesempatan, pihak Kepolisian senantiasa menyebut masih melanjutkan proses penyelidikan kasus ini.

Terbaru, Wakapolri Ari Dono Sukmanto saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (1/11/2018), menegaskan penyelidikan polisi atas teror Novel sudah maksimal.

“Jadi, kalau seumpama diterangkan ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu formalitas,” kata dia

(Nebby)