Jakarta, Aktual.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai Asia Development Bank (ADB) merupakan lembaga keuangan yang tidak berkomitmen menurunkan emisi. Lembaga ini masih terus melakukan pembiayaan pada proyek yang memacu pemanasan global.

Dalam kurun waktu 1994 hingga 1912 tercatat piutang ADB pada pembiayaan pembangkit listrik berbahan batubara mencapai USD 3.9 milyar untuk 21 proyek. Diperkirakan jumlah itu terus bertambah dalam 5 tahun terakhir.

“ADB masih mendukung pengguna energi kotor khususnya batubara yang berkontribusi besar pada perubahan iklim,” kata Manajer Kampanye Keadilan Iklim WALHI, Yuyun Harmono di Jakarta, Minggu (7/5).

Lebih lanjut, alih-alih mengevaluasi kebijakan dan menghentikan pembiayaan proyek tidak ramah lingkungan, ADB malah berkelakar dengan teknologi carbon capture and storage (CCS). Menurut Yuyun upaya itu hanyalah solusi palsu, malah dampaknya akan semakin parah.

“Sistem kerja CCS menangkap gas emisi rumah kaca dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara, lalu mengirimnya ke tempat penyimpanan limbah karbon. Karenanya ini akan lebih berdampak buruk bagi lingkungan karena membutuhkan air 90 persen lebih banyak dibanding pembangkit lainnya,” ujar dia.

Namun yang lebih memprihatinkan bagi Yuyun yaitu sikap pemerintah seakan kehilangan upaya untuk terhindar dari hutang. Dengan projek infrastruktur yang dicanagkan oleh Jokowi telah menjebak Indonesia ke dalam hutang yang semakin mendalam.

“Dalam kampanye Jokowi pernah mengatakan tidak menggantungkan pembiayaan luar negeri, tapi pembangunan yang begitu banyak maka kita terjebak pada hutang,” pungkasnya.

(Dadangsah Dapunta)

()