Ilustrasi (istimewa)

Jakarta, Aktual.com – Prabu Salya, dia adalah raja dari kerajaan Madra. Ia dikenal sebagai pemanah hebat. Salya juga terkenal sebagai kusir kereta yang tangguh. Salya adalah kakak-nya Dewi Madri, istri kedua Pandu, Maharaja Hastinapura.

Dari istri pertamanya Dewi Kunti, Pandu dianugerahi tiga orang anak, Yudhistira, Bhima dan Arjuna. Sementara Nakula dan Sadewa adalah anak kembarnya Pandu dari istri keduanya, Dewi Madri.

Dalam versi pewayangan Jawa, Salya sering disebut sebagai raja Salyapati. Kerajaan yang dipimpinnya disebut Mandaraka. Secara garis besar, kisah raja Salya yang ditulis di dalam wiracarita Mahabarata tidak jauh berbeda dengan lakon pewayangan Jawa.

Prabu Salya sangat menyayangi kedua keponakannya, Nakula dan Sadewa.

Pada sebuah kesempatan, dengan ekspresi haru, Prabu Salya menyampaikan perasaannya itu kepada kedua keponakannya. “Aku ini sangat menyayangi kalian berdua. Setiap melihat kalian berdua, aku selalu teringat akan Madrim adikku yang telah wafat saat melahirkan kalian”.

Demikian juga dengan Nakula dan Sadewa, mereka berdua juga sangat menyayangi Prabu Salya.

Baginya, pamannya itu adalah satu-satunya keluarganya yang masih tersisa. Ayah dan Ibu mereka, Pandu dan Dewi Madrim, telah lama wafat. Sepeninggal Ayah dan Ibu mereka, sejak bayi mereka berdua dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dewi Kunti, bersama ketiga putra Kunti, Yudisthira, Bhima dan Arjuna.

Saking sayangnya kepada kedua keponakannya, Salya juga menyampaikan amanah kepada Sre Kresna, “jika bharatayudha memang benar-benar meledak, aku ingin menitipkan suatu hal, tolong jaga kedua keponakanku, Nakula dan Sadewa”, ujar Salya.

Mendengar permintaan Salya itu, Kresna pun menyanggupinya.

Alkisah, sebelum berkecamuk bharatayudha, berlangsung perang senyap, adu siasat, adu kecerdikan. Bahkan adu kelicikan antara dua sosok dalang yang tersohor. Sengkuni yang menjadi dalang dan “pengompor” di pihak Kurawa. Begitu juga Sre Kresna, dia bertindak sebagai mentor dan dalang di pihak Pandawa.

(Nebby)