Washington, Aktual.com – Ivanka Trump akan membantu pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memilih kandidat Amerika Serikat untuk dicalonkan sebagai presiden Grup Bank Dunia.

Menurut pejabat Gedung Putih, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena proses pemilihan itu tidak boleh dipublikasikan, membantah laporan di Financial Times yang mengangkat nama Ivanka sebagai kemungkinan kandidat dan digaungkan juga oleh beberapa media lain pada akhir pekan lalu.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney meminta Ivanka Trump untuk membantu menangani proses pencalonan AS karena dia telah bekerja dalam kepemimpinan Bank Dunia selama dua tahun terakhir.

“Laporan yang menyebutkan bahwa dia sedang dipertimbangkan sebagai calon adalah salah,” kata pejabat itu, dikutip Reuters, Selasa (15/1).

Juru bicara Kementerian Keuangan AS belum dapat dihubungi untuk mengomentari isu tersebut.

Ivanka Trump telah bekerja dengan Bank Dunia dan Presiden Jim Yong Kim selama dua tahun terakhir Ivanka terlibat dalam peluncuran program dana kewirausahaan perempuan senilai 1,6 miliar dolar Amerika (sekitar Rp22,5 triliun) dengan 13 negara donatur Bank Dunia lainnya guna meningkatkan modal bagi pengusaha perempuan di sejumlah negara berkembang.

AS, yang memiliki kepentingan untuk mengendalikan pemilihan suara di Bank Dunia, sudah biasa memilih pemimpin lembaga itu sejak mulai beroperasi pada 1946.

Kim pekan lalu secara mengejutkan mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada 1 Februari untuk bergabung dengan lembaga dana ekuitas swasta Global Infrastructure Partners, atau lebih dari tiga tahun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2022.

Pengunduran diri Kim menyusul perbedaan pendapatnya dengan pemerintahan Trump terkait isu perubahan iklim dan perlunya meningkatkan pengembangan sumber daya.

Badan eksekutif Bank Dunia akan mulai menerima pencalonan pada 7 Februari. Mereka mengatakan para kandidat harus berkomitmen untuk mengimplementasikan target pembangunan 2030 Bank Dunia dan beberapa reformasi berdasarkan rencana modal 2018.

Para kandidat harus memiliki rekam jejak kepemimpinan yang terbukti, ditambah pengalaman mengelola “organisasi besar yang berhubungan dengan masyarakat internasional,” memiliki keterampilan berdiplomasi dan berkomunikasi serta berkomitmen tinggi dan mampu mengapresiasi kerja sama multilateral. Kandidat perlu mendapat persetujuan dewan eksekutif, dan beberapa kandidat alternatif yang diajukan negara lain tampaknya akan meningkat, seperti yang terjadi pada 2012, ketika pencalonan Kim menghadapi tantangan dari Nigeria dan Kolombia, namun kedua calon negara itu gagal.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)