(ilustrasi/aktual.com)

Global evolution is already upon us. Emerging economies have emerged to become an important part of global economy, accounting more than half of global growth. In the future, emerging economies are projected to become even more important. PricewaterhouseCoopers explained yesterday that emerging economies are projected to dominate the list of world’s largest economies by 2050, and their combined GDPs will cover almost half of world GDP. Indonesia is among those emerging economies and projected to be the 4th largest economy in the world by 2050. PwC’s projection highlight the potential of Indonesia. Of course, to realize such potential, a strong economic transformation is required“. (SMI)

 

Jakarta, Aktual.com – Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2019 dan 2020 hanya akan tumbuh 3,5 persen. Sedangkan untuk tahun ini, OECD memangkas perkiraan pertumbuhan dari 3,8 persen menjadi 3,7 persen. Negara berkembang seperti Indonesia harus waspada karena pelambatan pertumbuhan ekonomi akan memukul sejumlah negara, seperti Brasil, Rusia, Turki dan Afrika Selatan. Melambungnya suku bunga, sebagaimana tercermin dari kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve), berdampak negatif terhadap keberlanjutan investasi.

“Kami kembali ke tren jangka panjang. Kami tidak mengharapkan hard landing, namun ada banyak risiko. Soft landing selalu sulit,” ujar Kepala Ekonom OECD Laurence Boone.

Situasi ekonomi dunia saat ini diliputi ketidakpastian, salah satu pemicunya adalah perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China. Selain itu, terjadi arus modal keluar dari negara-negara berkembang ke negara-negara yang menormalisasi kebijakan moneter. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia bisa tergerus 0,8% pada 2021

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari (SMI) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi tahun depan diproyeksikan melandai atau melemah, namun tetap tumbuh. Meskipun landai, dirinya tetap menantisipasi dari sisi fiskal dan moneter. Pasalnya, dari sisi trade tidak ada peningkatan yang besar meskipun ada pertumbuhan 4 sampai 4,5 persen. Dalam G20 juga disampaikan bahwa fokus ekonomi global antara lain pada masalah perdagangan, termasuk policy global AS dan China yang belum bisa diproyeksikan secara tepat.

“Semua publik leader menggaris bawahi, dunia perlu melakukan reformasi ekonomi. Saat ini hampir semua negara melakukan kebijakan sendiri tanpa memperhatikan kebijakan multilateral yang berakibat pada ekonomi internasional. Salah satu antisipasi yang dilakukan yaitu melalui penguatan kondisi domestik, agar tidak rentan terhadap tekanan eksternal. Indonesia perlu memahami apa yang terjadi dengan kondisi global dan perlu menyiapkan mitigasi karena kita merupakan negara dengan ‘open economy’,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengharapkan Indonesia di masa mendatang bisa melakukan upaya transformasi dalam bidang ekonomi untuk menghadapi perubahan global yang selalu disertai ketidakpastian. Dirinya juga mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk memicu produktivitas seiring dengan kemajuan teknologi digital agar Indonesia bisa menjadi negara maju. Untuk mencapai hal tersebut, maka peningkatan investasi pada pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia harus terus menjadi prioritas.

Selain itu, Indonesia perlu mewaspadai ketidakpastian global, baik dari sisi nilai tukar, ekspor-impor maupun suku bunga. Diproyeksikan The Fed akan mereview kenaikan suku bunga. Indonesia beruntung di tahun 2018, ekonomi bertahan cukup baik, pertumbuhan ekonomi masih diatas 5 persen, inflasi terkendali di 3,2 dan nilai tukar rata-rata di Rp14.275. Hal inilah yang akan diwaspadai dari asumsi makro 2019.

“Tahun 2019 mungkin akan mengalami deviasi seperti 2018. Nilai tukar meningkat tinggi dari asumsi, harga minyak dia atas asumsi. Sehingga pada 2018 penerimaan negara dari selisih harga minyak dan kurs cukup besar. Namun subsidi juga meningkat, oleh karena itu kita menjaga APBN sebagai jangkar stabilitas,” jelasnya.

Selanjutnya, Perspektif Ekonom dan Tantangan Global

(Ismed Eka Kusuma)