Suasana museum Bursa Efek Indoneaia (BEI) di Jakarta, Kamis (26/4). Kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih akan berlangsung hingga tahun depan serta imbal hasil surat utang AS yang menembus level psikologis menyebabkan pasar saham Asia meriang sepekan ini. IHSG turun 2,81% ke 5.909. IHSG menggenapi penurunan sepekan atau lima hari perdagangan berturut-turut. Kamis (26/4), Dalam lima hari penurunan, IHSG merosot 7,03%. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai kecil kemungkinan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada Rapat Dewan Gubernur Kamis (20/6) esok, karena mendesaknya kebutuhan sektor riil untuk mendapat keringanan pembiayaan, guna melakukan ekspansi dalam menggerakkan roda perekonomian.

Selain itu, kata Bhima, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (Fed) juga kemungkinan besar akan memangkas suku bunga acuannya pada Rabu malam waktu AS untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi “Paman Sam” yang sejauh ini belum sesuai ekspektasi.

“Selama satu tahun terakhir BI sudah pro stabilitas dengan naikan bunga acuan. Sekarang saatnya pro sektor riil. Dengan bunga yg lebih rendah, biaya peminjaman sektor usaha akan lebih ringan karena nyatanya masih mahal,” ujarnya, Rabu (19/6).

Selama satu tahun terakhir, BI memang bersikap hawkish atau cenderung ke pengetatan, dengan menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate hingga 1,75 persen ke level enam persen saat ini.

Hal itu dilakukan untuk membendung pembalikan arus modal asing karena ketidakpastian pasar keuangan global meningkat sepanjang 2018, yang membuat investor cenderung memilih instrumen keuangan di negara yang risikonya lebih kecil.

(Abdul Hamid)