Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin. Pada Selasa (23/1). Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor baru setelah ditutup menguat 2,07% atau 134,80 poin ke level 6.635,33. AKTUAL/Tino Oktaviano

JAkarta, Aktual.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat diprediksi menguat seiring kondisi eksternal yang dinilai lebih “bersahabat”.

“Kami melihat potensi kelanjutan apresiasi IHSG yang bertumpu dari faktor eksternal yang cukup bersahabat, seperti penundaan kenaikan suku bunga The Fed dan potensi berakhirnya perang dagang AS-China,” kata Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Jumat (22/2).

Rilis FOMC minutes mempertegas arah kebijakan The Fed yang “bersabar” dalam menaikkan suku bunga. Selain itu, The Fed akan mengakhiri reduksi aset sebelum 2019 yang bernilai 3,8 triliun dolar AS.

Arah kebijakan The Fed dilandasi oleh angka inflasi yang melamban yang pada Januari 2019 di 1,6 persen (yoy) atau terendah selama 1,5 tahun terakhir atau melambat dari Desember 2019 yang 1,9 persen (yoy).

“Meskipun demikian, kami melihat The Fed belum membuat opsi untuk menghentikan “tightening” namun hanya menunda, jadi tidak ada jaminan The Fed akan berhenti menaikkan suku bunga. Karena, jika pun inflasi AS rebound, maka kami rasa akan berisiko bagi The Fed untuk menahan suku bunga terlalu lama,” ujar Alfiansyah.

Sementara itu, pembicaraan perdagangan AS-China berjalan cukup produktif yang menurut pemberitaan media AS, kedua belah pihak telah merumuskan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup enam isu penting yakni aturan transfer teknologi, pencurian siber, kekayaan intelektual, jasa, mata uang, pertanian dan halangan perdagangan non-tarif.

(Abdul Hamid)