Mereka yang pernah mengalami pahitnya masa perang, dipaksa kerja sama dan punya etos kerja tinggi, sehingga melahirkan masa keemasan Amerika dan Eropa setelah usai PD-II. Generasi ini telah pensiun di tahun 90-an.

Generasi setelahnya, yang tidak pernah “bersatu melawan musuh dari luar”, cenderung suka berantem sesama anak bangsa. Dan nampaknya gejala ini juga terjadi di negeri kita tercinta ini.

4. KEBENCIAN MASSAL DI MEDSOS DAN INTERNET:

Tiga hal diatas diperparah dengan kebebasan akses dan berkomentar di medsos. Ini membuat skala masalah yang kita hadapi jadi Masif. Lihatlah komentar2 di medsos dalam perang antara cebong dan kampret (saya sebenarnya risih dengan istilah ini, terpaksa saya pakai di sini agar kita sadar akan “kegawatan” situasi saling benci di bangsa kita saat ini). Anda akan temukan segala kata-kata kotor disana, umpatan2 kasar bertebaran, rasa respek dan empati lenyap.

Kita jadi heran dan sedih, sepertinya ini bukan akhlak dan perangai asli bangsa kita. Toh nyatanya ini terjadi dengan skala yang makin lama makin mengkhawatirkan, jika tidak kita bangun “jembatan cinta” diantara mereka.

5. ASAL BUKAN DIA, JANGAN DEKAT-DEKAT MEREKA:

Alan Abramowitz, peneliti masalah politik Amerika, menyebut pemilu terakhir di Amerika kemarin (saya kira juga di Indonesia barusan) memiliki dampak paling merusak yang tidak pernah terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya.

Para pemilih dirayu untuk memilih bukan dengan menunjukkan kebaikan-kebaikan program yang diajukan seorang capres, tapi dipancing emosinya yang paling kuat dan merusak: Kebencian terhadap capres lain.

(Abdul Hamid)