Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini memberikan kata sambutan dalam Seminar "Berguru kepada Kepahlawanan Kasman Singodimedjo" di Aula Rumah Jabatan Anggota (RJA), Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (16/6). Kasman Singodimedjo memiliki catatan perjuangan kemerdekaan baik secara militer maupun secara politik. Terlebih, Kasman adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan kesejarahan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tidak salah bila Kasman Singodimedjo mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. AKTUAL/HO

Jakarta, Aktual.com – Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR, Jazuli Juwaini menegaskan PKS menolak wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah. Menurutnya wacana tersebut bentuk sekularisasi yang bertentangan dengan Pancasila.

“Ini ide sekularisasi yang menjauhkan generasi bangsa dari nilai-nilai agama. Wacana ini juga bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan tujuan pendidikan nasional,” kata Jazuli dalam keterangan resminya, ditulis Sabtu (6/7).

Dia mengaku aneh, mengapa wacana ini dimunculkan di tengah upaya penguatan pendidikan agama di sekolah. PKS mengkritik keras wacana yang disebut diusulkan Chairman Jababeka Setyono Djuandi Darmono kepada Presiden Joko Widodo.

Jazuli menyebut penguatan pendidikan agama di sekolah diperlukan untuk membentuk siswa yang beriman dan bertakwa. Hal ini merujuk Pasal 31 UUD 1945.

Ia pun menyinggung amanat Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.¬†Harapan PBNU agar memperkuat pendidikan pesantren karena salah satu cara memperkuat pendidikan karakter.

“Amanat PBNU menegaskan pentingnya pengarusutamaan pendidikan agama, dalam hal ini¬†agama Islam dengan memperbaiki kurikulum yang menekankan peningkatan akhlaqul karimah,” jelas Jazuli.

Kemudian, ia menekankan bila sejumlah fraksi di DPR seperti PKS memperjuangkan penguatan pendidikan agama di sekolah. Upaya ini dengan proses perjuangan penyusunan RUU Pesantren dan Pendidikan Agama.

Namun, dengan kemunculan wacana penghapusan pendidikan agama tersebut mengganggu semangat perjuangan pendidikan nasional. Padahal, RUU Pesantren dan Pendidikan Agama ditunggu umat Islam.

“RUU ini ditunggu berbagai ormas keagamaan karena muatannya yang positif dan konstruktif. Lalu muncul wacana menghapus pendidikan agama di sekolah. Ini bertolak belakang dengan semangat kebangsaan kita,” tuturnya.

(Arbie Marwan)