Sri Mulyani: Rupiah Tembus 14.600 per Dolar AS Imbas dari Krisis Turki: Karyawan PT Ayu Masagung menghitung pecahan 100 dolar AS di Jakarta, Senin (13/8). Nilai tukar rupiah kembali merosot tajam hingga level 14.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin pekan ini. Sri Mulyani menyebutkan Tekanan terhadap rupiah disebut sebagai imbas dari krisis keuangan yang dialami oleh Turki. PATRARIZKI SYAHPUTRA/RM

Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan hingga nyaris menyentuh Rp14.200 per dolar AS pada pembukaan perdagangan akhir pekan ini, namun masih terdapat ruang penguatan seiring katalis positif yang timbul dari pergerakan mata uang kawasan di pasar menjelang Jumat siang.

“Mata uang seperti Sin dolar, Asia Yen menguat terhadap dolar AS, yang bisa menjadi sentimen penguatan rupiah,” kata Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih dalam risetnya di Jakarta, Jumat (26/4).

Hingga pukul 09.45 WIB Jumat dipantau dari Jakarta, mata uang beberapa negara mulai menunjukkan perlawanan terhadap “greenback” dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,14 persen. Begitu juga Baht Thailand yang menguat 0,16 persen.

Otoritas di Indonesia juga ditengarai tidak akan membiarkan rupiah melemah terlalu dalam. Sinyalemen itu tampak dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang pada Kamis (25/4) kemarin menyebutkan nilai tukar rupiah saat ini masih dihargai terlalu murah (undervalued).

Pernyataan tersebut kerap diterjemahkan pelaku pasar sebagai terbukanya ruang penguatan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Adapun pada pembukaan perdagangan Jumat ini, rupiah di pasar spot masih melemah, dengan takaran delapan poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.194 per dolar AS.

(Abdul Hamid)