Jakarta, Aktual.com – Duta Besar Rusia untuk Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Alexander Ivanov, mengatakan penyelesaian sengketa Laut China Selatan harus bebas dari campur tangan pihak ketiga.

“Intervensi dari pihak ketiga akan memicu eskalasi konflik di Laut China Selatan. Intervensi dari pihak ketiga juga akan menghambat terciptanya perdamaian pada pihak yang terlibat sengketa,” ujar Duta Besar Rusia untuk Asean, Alexander Ivanov, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (30/11).

Laut China Selatan merupakan wilayah strategis yang berbatasan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan RRT. Di beberapa bagian, terjadi tumpang tindih yurisdiksi antara negara-negara yang mengklaim (Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan China) hingga menjadikan potensi konflik di wilayah ini cukup tinggi.

Ia mengatakan penyelesaian sengketa Laut China Selatan dapat diselesaikan dengan cara-cara politis oleh pihak yang bersengketa, yaitu ASEAN dan China.

“Sebagai mitra strategis ASEAN dan China, Rusia tidak akan ikut campur dalam penyelesaian sengketa Laut China Selatan,” tegas Dubes Ivanov.

Dubes Ivanov mengatakan Rusia secara langsung tidak terlibat dengan sengketa Laut China Selatan.

“Rusia memuji perkembangan diskusi pada pertemuan KTT ASEAN di Singapura pada November lalu. Dalam pertemuan tersebut, ASEAN dan China bersepakat tentang teks negosiasi tunggal untuk kode etik (Code of Conduct) Laut China Selatan,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan para pemimpin negara ASEAN dan China mengharapkan kesepakatan kode etik (Code of Conduct/COC) dalam sengketa Laut Cina Selatan dapat diselesaikan dalam tiga tahun.

“Negara-negara Asia Tenggara dan China berharap proses konsultasi kesepakatan kode etik (code of conduct) dalam sengketa Laut China Selatan selesai tiga tahun,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Harapan tersebut muncul ke permukaan saat 10 pemimpin negara anggota ASEAN, China, dan Sekjen ASEAN berkumpul dalam acara KTT Ke-21 ASEAN-China di Pusat Konvensi Suntec, Singapura, Rabu (14/11).

Selama bertahun-tahun pihak yang terlibat sengketa di salah satu perairan tersibuk di dunia berdialog untuk mencegah peningkatan konflik.

“Kesepakatan ini adalah progres yang sangat signifikan untuk penyelesaian sengketa Laut China Selatan,” ujar Menteri Retno.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: