Jakarta, Aktual.com – Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami, menyatakan sebanyak 1.096 narapidana/tahanan di enam lembaga pemasyarakatan dan rutan di Sulawesi Tengah hingga Senin (8/10), belum melaporkan diri setelah gempa melanda wilayah itu, Jumat (28/9).

“Dari enam unit pelaksana tugas (UPT): Lapas Palu, Lapas Perempuan Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, Cabang Rutan Parigi, dan LPKP/LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusus Perempuan/Anak Palu), total warga binaan (WB) yang ada di dalam 204 orang, yang melaporkan diri 364 orang, sedangkan yang masih belum diketahui sebanyak 1.096 orang, itu per data hari ini,” kata Sri Puguh di Kantor Ditjenpas Jakarta, Senin (8/10).

Artinya, ada 1.460 warga binaan yang belum kembali ke rutan/lapas. Sebelum terjadi gempa dan tsunami dengan magnitudo 7,4 itu warga binaan di enam UPT tersebut sebanyak 1.664 orang.

“Kami masih memberikan tenggat waktu karena memang pertama kesiapan kami utamanya dalam memberikan layanan dasar, seperti penyiapan bahan untuk makanan sehari-hari, kesediaan air dan listrik belum optimal,” katanya.

Menurut Sri Puguh, lapas dan rutan yang dapat menampung para warga binaan pun hanya dua lokasi.

“Untuk tempat sudah bisa ditempati, hanya di Rutan Palu dan Cabang Rutan Parigi, selebihnya masih dalam penataan. Contoh Lapas Palu pagarnya seluruhnya roboh, bloknya roboh, sedang dirapikan puing-puing yang roboh. Di rutan Donggala juga, masih ada sembilan WBP di sana,” katanya.

Pihak penyedia bahan makanan, menurut Sri, juga masih berupaya keras untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk air dan listrik, karena 204 orang warga binaan yang ada di sana suplai makanannya masih berasal dari pihak-pihak di luar rutan dan lapas.

“Untuk itu, saya mengimbau kepada seluruh narapidana dan tahanan yang ada di luar agar secara rutin melaporkan diri sampai berfungsi seluruhnya layanan lapas dan rutan. Namun, saya menyadari sepenuhnya keterbatasan pemulihan rehabilitas lapas dan rutan, khususnya terkait dengan pelayanan dasar, sepeti makanan, listrik, dan air,” tambah Sri.

Ditjenpas menurut Sri sudah membentuk tim satuan tugas (satgas) yang berasal dari Kementerian Hukum dan HAM pusat, satgas kantor wilayah Sulawesi Tenggara, kantor wilayan Sulawesi Selatan, kantor wilayah Gorontalo, dan kantor wilayah Sulawesi Barat untuk mencari para narapidana dan tahanan yang belum melaporkan diri tersebut. Para tahanan dan narapidana yang kabur itu berasal dari Lapas Palu sebanyak 515 dari 581 narapidana sehingga tersisa 66 warga binaan, Rutan Palu sebanyak 410 tahanan dari 463 tahanan sehingga tersisa 53 orang.

Lembaga Pemasyarakatan Khusus Perempuan (LPP) Palu sebanyak 75 narapidana dari 83 narapidana ditambah tiga bayi, tersisa sembilan orang.

Selanjutnya, di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak Palu sebanyak 24 orang dari 29 narapidana sehingga tersisa lima warga binaan, dan Lapas Donggala sebanyak 342 narapidana kabur semua.

 

Ant.

()