Dua anak mengisi jeriken dari sumber mata air di desa Sanleo, Kobalima, Malaka, NTT, Jumat (10/10). Akibat musim kemarau yang berkepanjangan warga harus mencari sumber air sejauh tiga kilometer dari desa asalnya. ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/pd/15

Yogyakarta, Aktual.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memprediksi potensi bencana kekeringan akan melanda enam kecamatan yang tersebar di 13 desa di wilayah itu.

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Ariadi mengatakan penanganan bencana sementara, seperti distribusi kekeringan ditangani sementara oleh Tim Tagana dan Dinas Sosial Kulon Progo.

“BPBD akan mendistribusikan atau menangani bencana kekeringan setelah ada status tanggap bencana. Selama masih belum mendesak, dan bisa ditangani Dinas Sosial dan Tagana, BPBD belum akan bertindak. Untuk itu, kami akan intensifkan koordinasi dengan Dinsos dan Tagana mengantisipasi kekeringan di Kulon Progo,” katanya, Minggu (15/2).

Ia mengatakan penanganan bencana sendiri menggunakan anggaran tidak terduga yang disediakan oleh Pemkab Kulon Progo sebesar Rp3,6 miliar. Namun anggaran tersebut telah digunakan sekitar Rp450 juta untuk penanganan darurat bencana Badai Savana, beberapa waktu lalu.

“Anggaran tidak terduga bisa digunakan oleh semua organisasi perangkat daerah (OPD) dalam melakukan penanganan darurat. Melihat kondisi keuangan saat ini, kami yakin dapat mengatasi masalah bencana kekeringan di Kulon Progo,” katanya.

Ariadi mengatakan potensi bencana kekeringan sering melanda enam kecamatan, yakni Girimulyo, Kokap, Kalibawang, Samigaluh, Nanggulan dan Sentolo. Enam kecamatan tersebut terdapat 13 desa yang menjadi langganan kekeringan. Pada 2018, sedikitnya 7.000 kepala keluarga di 109 dusun mengalami krisis air. Ratusan dusun tersebut berada di 23 desa di delapan kecamatan, yakni Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Kokap, Pengasih, Sentolo, Nanggulan dan Panjatan.

(Abdul Hamid)