Jakarta, Aktual.com – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, mengatakan telah mengusulkan pengembangan teknologi mitigasi di BMKG sejak awal 2018.

“Rencana itu sudah kita siapkan sejak akhir 2017, seluruh peralatan sudah diaudit pada November dan Desember 2017 serta usulannya sudah masuk ke presiden pada Januari 2018,” kata Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (11/1).

Rancangan pengembangan tidak hanya diusulkan ke presiden tapi juga ke DPR dan negara donor. Pada Februari 2018 rancangan tersebut mendapat arahan untuk dibahas.

“Tindak lanjut ini perlu waktu, karena memerlukan keterlibatan berbagai lembaga sebab BMKG tidak bisa bekerja sendiri. Proses ini berjalan tapi sebelum bisa terealisasi bencana sudah terjadi,” kata dia.

Menurut dia, pengembangan teknologi diperlukan dalam mitigasi bencana karena muncul fenomena baru seperti yang terjadi pada 2018.

Seperti adanya tsunami yang datang lebig cepat dari peringatan dini tsunami di Palu dan terjadinya tsunami di Selat Sunda yang diduga akibat longsoran Gunung Anak Krakatau.

Dwikorita menjelaskan, salah satu rancangan pengembangan teknologi adalah terkait pengembangan sensor yang dipasang di dasar laut, karena selama ini sensor yang ada dipasang di permukaan laut.

Dengan adanya sensor di dasar laut ketika terjadi getaran atau tekanan yang kuat karena tsunami bisa langsung terdeteksi.

“Itu sedang dikaji teknologinya oleh BPPT, tapi ini perlu proses,” tambah dia.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo meminta BMKG untuk melengkapi alat pendukung sistem peringatan dini tsunami.

“Ke depan saya perintahkan BMKG untuk membeli alat-alat deteksi Early Warning System yang bisa memberikan peringatan-peringatan dini kepada kita semua, kepada masyarakat,” kata Presiden saat meninjau fasilitas pariwisata di Hotel Mutiara Carita, Pandeglang, Senin, 24 Desember 2018.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)