“Gerhana matahari dan gerhana bulan pada dasarnya peristiwa alam biasa yang dapat dihitung kapan terjadinya dengan ilmu hisab/falak. “Pendekatan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan salat gerhana secara berjamaah, zikir dan membaca kalimat thayyibah. Juga dengan mengamati dan mempelajari fenomena alam ini dan perilaku makhluk

Jakarta, Aktual.com – Rasullulah SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ

”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir), hadist riwayat” [HR Bukhari]

Berdasarkan edaran dari Lajnah Falakiyah PBNU bahwa menurut perhitungan hisab akan terjadi peristiwa fenomena alam Gerhana Bulan Total pada Rabu 31 Januari 2018 mendatang. Diperkirakan gerhana bulan ini terjadi mulai pukul 19.51 hingga 21.07 WIB.

Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Ini merupakan salah satu peristiwa akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan, sehingga hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Gerhana tidak hanya terjadi pada masa kini, gerhana telah terjadi sejak dahulu kala. Namun hanya cara menyikapinyalah yang berbeda. Ada yang meyakini bahwa saat gerhana terjadi, sang ‘buto ijo’ memakan bulan atau matahari dan akan menyebarkan berbagai keburukan.

Maka saat itu, tumbuh-tumbuhan dan tubuh kita harus ‘dibangunkan’ agar tidak dimakan buto ijo, karena menurut cerita kuno dengan adanya suara kentongan lesung dapat membuat buto ijo mengurungkan niatnya memakan bulan.

(Andy Abdul Hamid)