Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) hadir di sela-sela acara IMF-World Bank Meeting di Bali dalam sambutannya sempat mengatakan di dalam negeri banyak kritikan terhadap kondisi ekonomi Indonesia, sebaliknya upaya menjaga kondisi ekonomi Indonesia justru mendapat penilaian baik di luar negeri.

“Di dalam negeri kadang-kadang penilaiannya lebih negatif dibanding yang lain. Inilah Indonesia, di luar dipuji, di dalam dikritik, tapi tanpa kritik yang positif ekonomi kita juga tidak akan bisa berkembang baik,” kata JK.

“Saya sendiri juga kadang-kadang terkejut bahwa luar negeri memandang cara kita mengatur ekonomi kita termasuk yang baik, termasuk negara-negara yang lainnya,” tambah JK.

JK menambahkan pemerintah memang pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 6%-7%, namun kenyataannya hanya bisa tercapai di kisaran 5%. Ini terjadi karena gejolak ekonomi global, dan Indonesia ikut terpengaruh kondisi tersebut.

Selain itu, menurut JK, Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain karena masih bisa tumbuh di tengah tekanan ekonomi global.

“Rencana kita bisa tumbuh 6% sampai 7%, tapi keadaan dunia dan juga keadaan dalam negeri kita tumbuh di lingkaran 5 yang sebenarnya dibanding banyak negara, di level menengah. Level menengah tentu mudah naik, tapi apabila kita tidak manage dengan baik bisa juga (turun),” tutur JK.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh di di level 5,1% pada 2018. Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2018, angka pertumbuhan ekonomi ini menurun dari proyeksi April 2018 sebesar 5,3%.

Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia turun karena ada pengaruh dari perkembangan ekonomi global yang diperkirakan turun dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen pada tahun ini.

Kendati demikian, JK mengakui ekonomi Indonesia memang mengalami banyak tantangan. Menurut dia, di era keterbukaan saat ini, ekonomi Indonesia tentu sangat terpengaruh oleh kondisi perekonomian global.

Ketegangan perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat dan China dinilai turut menyeret negara berkembang, termasuk Indonesia ke dalam lubang hitam pelemahan ekonomi.

“Bagaimana perang dagang, konsumsi dunia, gejolak di pasar uang yang menyebabkan rupiah melemah dari global, itu juga pengaruh,” sebutnya.

Maka itu, lanjutnya, dibutuhkan informasi yang terpercaya dari media agar pelaku kebijakan mampu mengambil kebijakan dengan baik berdasarkan data yang akurat.

Benarkah Ekonomi Indonesia Membaik?

Halaman Berikutnya…