Jakarta, Aktual.com – Shaum berarti penenangan, seperti angin ribut yang mendadak lirih, seperti kuda liar yang sontak jinak.

Ramadhan berarti peranggasan, seperti dedaunan gugur di musim kering, seperti gumpalan lemak yang terbakar olah raga.

Inilah momen hibernasi, saat gajah menuju gua peristirahatan, elang pulang ke sarang, buaya gurun menyelam ke dalam pasir, orang-orang belajar mati dengan semedi menahan diri dari gravitasi syahwat bumi.

Bulan suci ini menyeru pedang yang terhunus untuk disarungkan, fitnah caci-maki disusilakan, kebencian pertikaian didamaikan, kebiadaban diperadabkan.

Manusia menjalani olah batin demi kembali menuju fitrah kesucian, memulihkan kehanifan yang menggandrungi kebenaran-kebaikan, menumbuhkan kasih sayang pada setiap makhluk yang bernyawa; segala warna menyatu, segala rasa bersambung, segala rezeki berbagi.

(Yudi Latif, Makrifat Puasa)

(Wisnu)