Forum Demokrasi Gema 77-78 memperlihatkan poster bertuliskan "Gerakan Anti Politik Uang" usai jumpa pers di KPU, Jakarta, Senin (1/4/2019). Forum Demokrasi Gema 77-78 meminta agar KPU netral pada pilpres 2019 dan Forum Demokrasi Gema 77-78 mensosialisasikan Gerakan Anti Politik Uang. AKTUAL/Tino Oktaviano
Jakarta, Aktual.com – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga kembali melaporkan dugaan kecurangan Pemilu 2019 di luar negeri ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). 
“Melaporkan terkait dengan berbagai macam temuan terkait dengan banyaknya pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan masif. Terutama yang terjadi di luar negeri. Malaysia, Hong Kong, Sydney, Saudi Arabia, Vatikan,” kata Sekretaris BPN, Hanafi Rais di gedung Bawaslu, Jakarta, Jumat (17/5). 
Politikus PAN ini mengungkapkan, kecurangan TSM di luar negeri ini, seperti surat suara yang dimasukkan ke dalam tas diplomatik. Menurutnya penggunaan tas diplomatik sebagai sebuah kecurangan serius dan harus diungkap. 
“Tas diplomatik kan bukan untuk kepentingan kaya gitu. Kalau terjadi betul penyalahgunaan, dan bisa termasuk terkategorisasi kejahatan diplomatik. Kan itu ada yang punya, siapa yang punya tas siapa, yang mengizinkan itu kan bisa ditelusuri,” tuturnya. 
Selain itu menurutnya dalam pemungutan suara ulang di luar negeri seperti di Malaysia juga masih terjadi kecurangan. Sehingga petugas di sana tak bersedia melakukan penghitungan.
“Terkait dengan surat suara yang terkirim, tapi  kemudian kembalinya tidak sesuai jumlahnya. Yang surat suara tercoblos duluan. Temuan-temuan lebih detail nanti tim hukum menjawab,” katanya. 
Sebelumnya Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menyampaikan dugaan indikasi penggelembungan suara yang sedang ramai di negara tetangga, Malaysia. 
Ia mengungkapkan dugaan penambahan surat suara itu untuk caleg Partai Nasdem, Davin Kirana, yang merupakan anak dari bos besar Lion Air sekaligus Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana. Diduga ada indikasi penambahan 62 ribu surat suara melalui metode pemilihan lewat pos. 
(Fadlan Butho)