Pengalaman kontras lainnya di antara sub-segmen milenials juga dapat dipotret di bidang kebudayaan (cultural) melalui keseruan MENTAS menikmati musik Green Days, Dewa19, Slank dan film AADC, berbeda dengan dengan MEGAH yang terjejali oleh film bergenre horor dan tersapu air bah musik rock melayu, sedangkan MEWAH seru histeris menonton Dilan91 serta ikut bergoyang ala korean-dance mengikuti irama musik K-Pop sambil tak lupa selfie.

Dengan seluruh paket pengalaman seru di atas, amat disayangkan bila para generasi milenials di Pemilu 2019 ini seolah tak memiliki menu lain di luar sajian monoton yang dihidangkan oleh KPU sebagai penyelenggara, dan para peserta baik dari partai politik maupun capres/cawapres, yang seolah tidak terlalu peduli dengan ekspektasi kaum milenials untuk menyaksikan laga Pemilu 2019 yang lebih hidup.

Gaya panggung debat pilpres pun paketnya saat ini sangat menjemukan, seperti tidak berubah sejak debat pilpres pertama digelar tahun 2004 dan sudah ikut disaksikan lebih dari 1/2 milenials.

Tampilan Debat Pilpres 2019 ini malah membawa kilas memori generasi MENTAS ke tayangan cerdas cermat dan kuis klompencapir di era orde baru.

Suasananya tidak berubah dan hanya memberikan Zonk-Effect, sudah ditunggu-tunggu di depan TV dan streaming live di smartphone eh malah cuman bisa bikin Zonk.

Seolah-olah panggung dan format debat pilpres itu dibuat hanya untuk meladeni kejumudan segmen penonton yang lebih udzur di atas generasi kami dengan budaya ultra ewuh pakewuh.

Topik jualan politik hari ini pun semakin parah lagi, tidak ada yang secara khusus mendongengkan kami alur cerita bagaimana kalian kiranya wahai para peserta pemilu akan menyiapkan kami para milenials untuk melakoni agenda bonus/bencana demografi di tahun 2030 serta momen 100 tahun Indonesia Emas 2045 nanti.

Semuanya masih terasa tawar dan hampa, kalian seolah-olah sibuk sendiri, tidak ada yang blak-blakan dan lantang bicara “mau dibawa kemana kami para milenials?”

Lanjut halaman berikutnya…

(Arbie Marwan)