Memahami selera dan harapan milenials di Indonesia setidaknya bisa dimulai dari memahami pengalaman hidup (experience) masing-masing setiap sub-segmen milenials.

Karena perbedaan pengalaman, melahirkan juga perbedaan catatan trauma dan kenangan manis, yang kemudian menjadi salah satu faktor penentu terhadap harapan, selera dan pilihan dari masing-masing sub-segmen di atas.

Setidaknya terdapat empat aspek pengalaman yang perlu mendapatkan perhatian untuk memahami selera dan harapan milenials di Indonesia, yaitu 1) Political Experience, 2) Spiritual Experience, 3) Economical Experience, dan 4) Cultural Experience.

MENTAS sebagai generasi tertua milenials memiliki pengalaman terlengkap di antara sub-segmen lainnya.

Pada aspek politik misalnya suasana represif orde baru, demo mahasiswa 98, kebebasan berbicara, dwi tunggal ABRI dan kinerja seluruh presiden RI selain Pak Karno telah MENTAS saksikan serta alami secara langsung, sehingga MENTAS memiliki referensi terlengkap soal plus minus setiap rezim tersebut di atas.

Generasi MEWAH, si milenials termuda, saat ini masih tergolong “unyu-unyu” sebagai mahasiswa baru di kampus-kampus, sebagian lainnya malah sedang sibuk keliling mencari kerja atau kesempatan beasiswa setelah lulus beberapa bulan yang lalu baik dari kampus maupun dari sekolah tingkat atas, nalar politik MEWAH saat ini hanya terlatih untuk bicara soal plus-minus masa Presiden Jokowi sebagai satu-satunya referensi politik mereka.

Ini sedikit berbeda dengan MEGAH sebagai generasi tengah yang ikut merasakan dua periode kinerja Presiden SBY, mulai dari lompatan pertumbuhan ekonomi hingga kontroversi naik-turun harga energi dan kehebohan kasus-kasus di KPK yang serasa tidak ada habisnya baik di periode pertama maupun di periode kedua.

Beruntung bagi MEGAH yang masih sedikit mendapatkan induksi heroisme generasi MENTAS di awal reformasi, meski pada akhirnya heroisme itu pun harus berlalu sebagai keseruan mitos, karena akhirnya MEGAH menjadi generasi yang memutus estafet dan legenda era parlemen jalanan mahasiswa yang penuh romansa perjuangan ke generasi MEWAH.

Bersama dengan MEWAH, kehidupan politik MEGAH saat ini diisi dengan perhitungan cermat soal untung ruginya cawe-cawe sekolah politik di parlemen jalanan, baik sebagai LSM, maupun sebagai aktivis gaek, karena rupanya ada jalur pilihan lain untuk terus memupuk pos “karir politik” dengan mengekor para politisi yang lebih senior “mengolah-olah” APBN/D, BUMN/D dan kebijakan politik lainnya, menjadi opsi yang lebih menarik dan mapan untuk politisi milenials.

Di sisi pengalaman ekonomi mungkin juga hanya MENTAS satu-satunya generasi yang mewakili 1/3 jumlah milenials menjadi saksi hidup getirnya krisis ekonomi 1997-2001, MENTAS merasakan sendiri susahnya sekolah dan kuliah, dan ketika sudah lulus malah lebih susah lagi mencari pekerjaan.

Sebuah medio pengalaman di bidang ekonomi yang tidak ikut dirasakan oleh MEGAH dan MEWAH, karena khususnya di Indonesia, rezim SBY saat itu berhasil mengarungi krisis ekonomi global tahun 2008 dengan sangat apik, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di luar sana.

Lanjut halaman berikutnya…

(Arbie Marwan)