Dua tahun lalu kamus Oxford menobatkan kata Youthquake sebagai Word Of The Year tahun 2017. Makna kata tersebut kurang lebih adalah “perubahan signifikan di bidang politik, sosial, dan budaya yang disebabkan aksi dan pengaruh dari para pemuda-pemudi”.

Mirip dengan kata Youthquake, artikel ini oleh Redaksi Aktual.com diberi judul “Millennial Quake 2019” untuk menyapa para pembaca dari kalangan milenials dan pemerhati generasi milenials di tahun politik 2019 ini. Tujuannya untuk menggambarkan andil generasi milenials membuat guncangan pada Pemilu 2019.

Generasi milenials di Indonesia yang lahir pada rentang tahun 1980-2000 (Goldman Sachs, 2016) (Resolution Foundation, 2016), kerap mendapatkan perhatian setidaknya disebabkan oleh dua hal berikut.

Pertama karena jumlahnya yang signifikan sebesar 90 juta jiwa atau setara dengan 50% jumlah DPT Pemilu 2019, dan Kedua karena diproyeksikan akan menjadi ahli waris bonus/bencana demografi di tahun 2025-2035.

Melihat angka dominasi milenials di Pemilu 2019, menjadi sangat naif kiranya bila partai politik dan kedua pasangan Capres/Cawapres yang berlaga pada pemilu 2019 tidak secara khusus mengkaji selera kaum milenials sebagai pemegang saham mayoritas Pemilu 2019 secara lebih mendalam.

Generasi milenials lazimnya dibagi lagi menjadi dua sub-segmen yakni Old Millennial (1980-1990) dan Young Millennial (1990-2000). Namun pada artikel ini, para penghuni lorong waktu milenials akan digolongkan oleh aktual.com menjadi 3 sub-segmen yaitu Milenial Atas (MENTAS, 1980-1986), Milenial Tengah (MEGAH, 1987-1993) dan Milenial Bawah (MEWAH, 1994-2000).

Lanjut halaman berikutnya…

(Arbie Marwan)