Areal lahan dan hutan terbakar terlihat dari atas Helikopter BNPB jenis MI-8 di Desa Pangkalan Terap, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (10/6). Satgas Karlahut Propinsi Riau terus berupaya melakukan pemadaman baik dari darat maupun udara terhadap kebakaran hutan dan lahan yang diperparah dengan kencangnya tiupan angin serta cuaca panas itu. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc/16.

Jakarta, Aktual.com – Guru Besar Perlindungan Hutan, Institut Pertanian Bogor Prof Bambang Hero Saharjo mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagian besar terjadi di lahan gambut karenanya waspadai turunnya tinggi muka air dengan mengaktifkan monitoring dan supervisi sekat kanal.

Prof. Bambang juga mengatakan perlunya secara rutin untuk melakukan patroli udara, air dan darat untuk mencegah kebakaran berlanjut dan mengantisipasi terjadinya pembiaran.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kebakaran sering terjadi di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan hutan konversi, maka pihak terkait diminta untuk segera melakukan penertiban atau memberikan tindakan tegas dan tidak melakukan pembiaran.

Menurut dia, penegakan hukum karhutla sejatinya juga melakukan proses penindakan terhadap pelaku pelanggaran hukum lain yang menyertainya.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles B. Pandjaitan mengatakan langkah korektif penanganan karhutla telah dilakukan dengan mengajak para pihak beralih paradigma dari melakukan pengendalian ke pencegahan kebakaran.

Raffles mengatakan pencegahan dimulai dengan sistem deteksi dini titik panas melalui citra satelit dan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di tingkat tapak.

Artikel ini ditulis oleh: